REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Punch, bayi monyet makaka itu tampak begitu kecil saat tangannya mendekap erat boneka orangutan oranye kusam di sudut kandang kebun binatang Ichikawa, Jepang. Bagi Punch, bayi monyet yang ditelantarkan induknya sesaat setelah lahir pada 26 Juli 2025, boneka seharga 19,99 dolar AS (Rp315 ribu) dari rak IKEA tersebut bukan sekadar benda mati.
Boneka itu adalah satu-satunya sumber kehangatan yang ia miliki untuk menggantikan pelukan sang ibu. Kisah kesepian Punch ini kemudian menyebar luas, menciptakan gelombang empati yang tidak terduga hingga ke pasar internasional. Popularitas Punch meledak setelah sebuah video amatir memperlihatkan dirinya sedang diseret oleh monyet dewasa di dalam kelompoknya.
Dalam kondisi ketakutan, Punch berhasil meloloskan diri dan langsung berlari menuju boneka orangutan Djungelskog miliknya yang tergeletak di pojok area. Punch memeluk erat gumpalan kain itu seolah mencari perlindungan dari kerasnya dunia luar. Publik yang menyaksikan video tersebut pun terenyuh, melihat bagaimana seekor hewan mencari ketenangan pada sebuah mainan.
Pihak kebun binatang Ichikawa memberikan penjelasan mengenai kondisi ini agar masyarakat memahami proses pendewasaan Punch. Melalui pernyataan resminya, pihak kebun binatang menyampaikan bahwa kejadian tersebut adalah bagian dari sosialisasi.
“Punch telah dimarahi oleh monyet lain berkali-kali pada masa lalu dan telah belajar untuk bersosialisasi dengan mereka,” tulis pihak kebun binatang.
Mereka juga menambahkan pengamatan terhadap perilaku Punch pascakejadian tersebut. “Dalam video tersebut, Punch lari ke boneka orangutan miliknya setelah diseret. Namun, seperti biasanya, dia meninggalkan boneka itu setelah beberapa saat dan berkomunikasi dengan monyet lainnya,” kata dia.