REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit leptospirosis atau dikenal juga sebagai penyakit kencing tikus mengalami peningkatan kasus pada awal 2026. Keadaan ini dapat disebabkan dengan musim hujan yang masih berlangsung membuat risiko penularan lebih tinggi.
Kasus leptospirosis terjadi hampir di seluruh dunia terutama di wilayah tropis dan subtropis dengan laporan setiap tahunnya lebih dari 1 juta kasus dan 60 ribu kematian. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat tren peningkatan kasus leptospirosis di berbagai daerah sepanjang Juli-Agustus 2025. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi mencapai 1.014 kasus, disusul oleh DI Yogyakarta sebanyak 703 kasus.
Dokter spesialis penyakit dalam di RS Akademik UGM, dr Noviantoro Sunarko Putro, mengatakan penyakit leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans, yang tidak hanya menginfeksi tikus tetapi juga pada mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba.
"Bakteri Leptospira interrogans dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urine sehingga berpotensi menularkan infeksi ke lingkungan dalam waktu lama," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (12/2/2026).
Noviantoro mengatakan gejala penyakit leptospirosis sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi pada umumnya dan sebagian besar kasus bersifat ringan seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, nyeri otot pada leptospirosis memiliki ciri khas, terutama pada otot betis, punggung, dan perut.