Rabu 28 Jan 2026 23:57 WIB

Benarkah Membedong Bisa Bikin Kaki Bayi Normal?

Membedong kaki bayi dengan sangat rapat menurutnya justru bahaya.

Membedong bayi (ilustrasi). Anggapan bahwa membedong bayi dapat membuat kaki bayi menjadi normal dan tidak membentuk O atau D dinilai keliru.
Foto: Antara
Membedong bayi (ilustrasi). Anggapan bahwa membedong bayi dapat membuat kaki bayi menjadi normal dan tidak membentuk O atau D dinilai keliru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggapan bahwa membedong bayi dapat membuat kaki bayi menjadi normal dan tidak membentuk O atau X dinilai tidak tepat. Menurut dokter spesialis ortopedi, itu hanyalah mitos.

“Jelas saya mengatakan itu mitos. Justru kita agak peduli bahwa studi-studi menyebut ternyata dengan membedong yang terlalu rapat, justru akan berpengaruh ke panggulnya,” kata dr Mohammad Aulia Herdiyana Sp.OT Subsp. A (K) dalam temu media di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah itu menjelaskan kondisi kaki berbentuk O (genu varum) atau X (genu valgum) ketika baru lahir dapat membaik seiring dengan bertambahnya usia bayi tanpa adanya intervensi apapun. Namun, kondisi kaki bisa berpotensi tidak berubah apabila bayi memiliki riwayat keturunan.

Membedong kaki bayi dengan sangat rapat menurutnya justru bahaya karena area bonggol di sekitar panggul dapat bergerak ke arah luar. Hal tersebut dapat memengaruhi keaktifan anak ketika berkegiatan di masa depan.

Menurutnya, panjang kaki dapat berbeda sehingga gerakan anak jadi terbatas. Anak kesulitan untuk menggerakkan panggul seluas mungkin.

“Tapi kalau dibiarin terus, ya tadi, pola jalan juga berubah karena kan ada beda panjang kakinya,” kata Aulia.

Kalaupun bayi harus dibedong, katanya, orang tua diharapkan tidak membedong terlalu kencang dan memastikan bayi tetap dapat bergerak dengan nyaman. Kemudian dia juga mengungkit sedikit soal kebiasaan anak duduk dalam posisi W yang dapat memengaruhi pertumbuhan posisi serta sudut panggul.

“Ketika anak di posisinya W itu kan dia mutar ke dalam sehingga dia merangsang tulangnya itu dalam posisi 30 derajat tadi. Yang terjadi adalah ketika dia terlalu besar intervensinya, supaya dia nyaman, dia akan memutar kakinya ke dalam," kata dia.

Kaki yang terbiasa berjalan ke arah dalam akan menyebabkan anak berjalan secara intoeing.

Kebiasaan itu dapat diubah dengan rutin memberitahu anak untuk duduk bersila atau duduk di atas kursi.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement