Kamis 01 Jan 2026 09:47 WIB

Normalkah Rambut Rontok Setelah Melahirkan?

Kerontokan rambut pascapersalinan dinilai bukan tanda kerusakan permanen.

Rambut rontok (ilustrasi). Menurut data dari National Institutes of Health (NIH), lebih dari 90 persen wanita mengalami rambut rontok pascapersalinan.
Foto: Flickr
Rambut rontok (ilustrasi). Menurut data dari National Institutes of Health (NIH), lebih dari 90 persen wanita mengalami rambut rontok pascapersalinan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi banyak ibu baru, momen keramas atau sekadar menyisir rambut bisa menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Pemandangan segenggam rambut yang terlepas di sela-sela jari bukan lagi hal asing.

Fenomena ini nyata, dan jika Anda mengalaminya, Anda tidak sendirian. Menurut data dari National Institutes of Health (NIH), lebih dari 90 persen wanita mengalami rambut rontok pascapersalinan. Meski terlihat mengkhawatirkan, para ahli menekankan bahwa kondisi ini sangat normal dan bersifat sementara.

Baca Juga

Dokter spesialis kulit bersertifikat di Greenwich, CT, Kim Nichols, MD, FAAD, mengatakan kerontokan ini sebenarnya adalah proses alami tubuh. “Kerontokan pascapersalinan adalah penyetelan ulang alami dari siklus rambut. Ini bukan tanda kerusakan permanen, melainkan cara tubuh Anda menyesuaikan diri kembali setelah masa kehamilan,” ujar dr Nichols dikutip dari Women's Health pada Kamis (1/1/2026).

Selama hamil, banyak wanita merasakan rambut mereka menjadi lebih tebal dan berkilau. Hal ini terjadi karena kadar estrogen yang melonjak tinggi menjaga rambut tetap berada dalam fase pertumbuhan lebih lama dari biasanya. Estrogen, kata dia, bertindak seperti payung pelindung di atas siklus rambut selama sembilan bulan.

Begitu bayi lahir, kadar estrogen turun drastis. Akibatnya, rambut-rambut yang sebelumnya "tertahan" di fase pertumbuhan secara bersamaan masuk ke fase kerontokan. “Begitu efek perlindungan itu berakhir, helai rambut yang tertahan akan dilepaskan secara bersamaan, mengakibatkan lonjakan kerontokan yang biasanya mencapai puncaknya sekitar tiga hingga empat bulan setelah melahirkan,” ujar dr Nichols.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement