Jumat 29 Aug 2025 12:23 WIB

Maraknya Pembajakan, Penulis Jiemi Ardian Sebut Penulis 'Kalah' dari Content Creator

Pembajakan buku dinilai tidak hanya merugikan penulis.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Stop peredaran buku bajakan. Pedagang mengikuti sosialisasi bersama penerbit, dan Polda DIY terkait peredaran buku bajakan di sentra buku Shoping, Yogyakarta. Dokter sekaligus penulis buku, dr Jiemi Ardian, menyoroti maraknya praktik pembajakan buku di Indonesia. (ilustrasi).
Foto: Republika/ Wihdan
Stop peredaran buku bajakan. Pedagang mengikuti sosialisasi bersama penerbit, dan Polda DIY terkait peredaran buku bajakan di sentra buku Shoping, Yogyakarta. Dokter sekaligus penulis buku, dr Jiemi Ardian, menyoroti maraknya praktik pembajakan buku di Indonesia. (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis kedokteran jiwa sekaligus penulis buku, dr Jiemi Ardian, menyoroti maraknya praktik pembajakan buku di Indonesia. la menegaskan, pembajakan bukan sekadar merugikan penulis, tetapi juga melemahkan ekosistem literasi secara keseluruhan.

"Menurut saya, pembajakan itu bukan cuma hal buruk yang merugikan penulis, namun juga merugikan komunitas literasi yang di dalamnya ada editor, penerbit, yang mana itu juga akan membuat minat penulis baru berkurang," kata Jiemi saat diwawancara seusai konferensi pers Pesta Literasi Indonesia di Gramedia Jalma, Kamis (28/8/2025).

Baca Juga

la berharap pemerintah memberi perhatian serius terhadap persoalan ini agar iklim literasi nasional bisa tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. "Pembajakan ini memang harus segera ditanggapi serius oleh pemerintah, sehingga literasi akan lebih bergerak lebih sehat," kata dia.

Jiemi juga menyoroti tantangan yang dihadapi para penulis saat ini, terutama dari sisi finansial. Menurutnya, banyak anak muda enggan terjun ke dunia kepenulisan karena rendahnya royalti, maraknya pembajakan, dan minimnya apresiasi secara ekonomi.

la membandingkan profesi penulis dengan content creator seperti selebgram, atau YouTuber, yang dinilai lebih menjanjikan dari segi pendapatan. "Sekarang ini, satu kali endorse mungkin bisa menghasilkan lebih banyak daripada pendapatan menulis buku selama sebulan," kata dia.

Jiemi menceritakan motivasinya dalam menulis bukan soal keuntungan finansial. la menulis karena dorongan kecintaan terhadap literasi dan keinginan untuk memperluas akses bacaan, terutama di bidang kesehatan jiwa.

"Ini semua dikerjakan karena cinta terhadap buku, karena cinta pada literasi, dan karena ingin melihat lebih banyak orang Indonesia membaca buku," kata penulis buku Pulih dari Trauma tersebut.

Jiemi mengisahkan, ia pertama kali tergerak menulis ketika kesulitan menemukan buku-buku bertema kesehatan jiwa di Indonesia. Berbeda dengan di luar negeri seperti Singapura, di mana buku tentang depresi dan isu psikologis sangat mudah diakses.

"Pengalaman itu membangkitkan saya untuk menulis. Waktu itu, di Indonesia, belum banyak profesional di bidang kesehatan jiwa yang menulis buku," kata Jiemi.

la pun menekankan pentingnya kontribusi psikiater dan psikolog dalam literasi, agar masyarakat memiliki akses pada informasi kesehatan jiwa yang tepat. Menurutnya, kehadiran tulisan dari para profesional dapat memperluas jangkauan literasi dan menginspirasi lebih banyak penulis baru.

"Jadi aku berharap semoga ke depannya semakin banyak penulis baru, profesional kayak aku juga ikut menulis, jadi iklim literasi di Indonesia semakin bagus lagi," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement