Ahad 09 Jun 2024 14:52 WIB

Nostalgia Remaja 2000-an, Ini Daftar Medsos yang Pernah Berjaya pada Zamannya

Media sosial terua berinovasi, namun sebagiannya ada yang tak mampu bertahan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Media sosial. (Ilustrasi). Ada beberapa media sosial yang pernah populer namun kini sudah tidak ada lagi.
Foto: Pixabay
Media sosial. (Ilustrasi). Ada beberapa media sosial yang pernah populer namun kini sudah tidak ada lagi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Platform media sosial telah menjadi bagian yang sangat melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Media sosial memungkinkan setiap orang tetap terhubung dengan teman, keluarga, dan orang-orang di seluruh dunia. Namun, seperti halnya teknologi digital lainnya, media sosial terus berubah dan banyak di antaranya tidak bisa bertahan.

Dilansir Yahoo Tech, Ahad (9/6/2024), berikut adalah beberapa media sosial yang dulu sangat populer, namun kini tak lagi banyak digunakan:

Baca Juga

1. BBM

BBM atau BlackBerry Messenger merupakan aplikasi pesan instan populer yang diluncurkan pada 2005, dan telah digunakan oleh sekitar 43 juta orang di seluruh dunia. Pada masa itu, pengguna perangkat BlackBerry dapat mengirim pesan atau melakukan panggilan video dengan pengguna lain dan memperbarui profil mereka menggunakan PIN, dengan masing-masing pengguna memiliki kode tersendiri.

Hingga 2013, BBM hanya dapat digunakan jika Anda memiliki perangkat BlackBerry, tetapi kemudian aplikasi ini dapat digunakan pada sistem iOS dan Android. Namun Blackberry Limited kemudian meluncurkan BBM Enterprise (BBMe) sebagai pengganti BlackBerry Messenger pada 31 Mei 2019.

BBMe tersedia secara gratis hanya untuk satu tahun pertama. Setelah itu, pengguna dikenakan biaya berlangganan selama 6 bulan sebesar 2,49 dolar AS atau sekitar Rp 35 ribu.

2. Friendster

Diluncurkan pada 2002, Friendster merupakan salah satu media sosial yang mendapatkan popularitas di seluruh dunia. Pengguna dapat membuat profil, terhubung dengan keluarga, teman dan kolega serta bergabung dengan grup, serta berbagi foto dan pesan.

Namun, aspek unik dari Friendster adalah pengguna dapat memakai platform ini untuk menjalin pertemanan dan memperluas jaringan profesional, seperti LinkedIn. Pengguna juga dapat menggunakan platform ini untuk berkencan, mencari event, band, dan hobi baru. Popularitas Friendster menurun pada pertengahan tahun 2000-an, seiring dengan diluncurkannya situs jejaring sosial seperti MySpace dan Facebook.

3. MySpace

Sebelum Instagram, Facebook, YouTube, dan Twitter mengambil alih ranah media sosial, MySpace adalah jejaring sosial pertama yang menjangkau khalayak global. Didirikan pada 2003, MySpace memungkinkan pengguna untuk menjalin pertemanan, menulis blog, menambahkan musik, dan menyesuaikan halaman MySpace mereka.

Sebagai platform sosial pertama dari jenisnya, MySpace merevolusi cara pengguna berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. MySpace merupakan salah satu situs jejaring sosial paling populer dengan lebih dari 76 juta pengguna pada masa kejayaannya, namun apa yang terjadi?

Ya, MySpace memang masih ada tetapi gagal menyamai kesuksesan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, yang diluncurkan tidak lama setelahnya. Sejak saat itu, MySpace telah diubah namanya menjadi situs yang berfokus pada musik.

4. Path

Path adalah layanan berbagi foto dan pesan berbasis jejaring sosial untuk perangkat seluler yang diluncurkan pada 14 November 2010. Layanan ini memungkinkan pengguna untuk berbagi hingga total 50 kontak dengan teman dekat dan keluarga mereka.

Berkantor pusat di San Francisco, California, perusahaan ini didirikan oleh Shawn Fanning dan mantan eksekutif Facebook Dave Morin. Pada tahun 2011, Morin menolak tawaran sebesar 100 juta dolar AS untuk perusahaan tersebut dari Google. Pada 28 Mei 2015, Path mengumumkan telah diakuisisi dengan jumlah yang tidak diungkapkan oleh Kakao.

Pada 17 September 2018, Path mengumumkan penghentian layanannya. Mulai 18 Oktober 2018, pengguna yang ada tidak dapat lagi mengakses layanan Path.

5. Vine

Ketika Gen X dan Milenial memiliki Myspace, Gen Z (dan Milenial yang lebih muda) pernah mencoba platform Vine. Dirilis pada 2013, aplikasi berbasis video ini meraih sukses besar, memanjakan penggunanya dengan konten short video yang berlimpah. Beberapa bulan sebelum peluncurannya, Twitter membeli perusahaan rintisan ini seharga 30 juta dolar AS.

Tiga tahun setelah peluncurannya, Vine mengumumkan bahwa aplikasi ini akan dihentikan. Pada saat itu, aplikasi ini kehilangan banyak kreatornya karena pesaing seperti YouTube dan Instagram. Twitter menawarkan arsip dari semua video Vine, tetapi sejak itu juga menghilang.

Sepekan setelah menyelesaikan pengambilalihan Twitter senilai 44 miliar dolar AS, Elon Musk melakukan jajak pendapat kepada para pengguna tentang kemungkinan kembalinya Vine. Meskipun hampir 70 persen dari lebih dari 4,9 juta pemilih menyatakan dukungannya, aplikasi ini tidak kembali.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement