Jumat 24 May 2024 16:14 WIB

Hipertensi tak Selalu Punya Gejala, Kenali Faktor Pemicunya Berikut Ini

Hipertensi salah satu penyakit degeneratif yang tidak selalu memiliki gejala.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Hipertensi (ilustrasi). Ada beberapa fakto pemicu hipertensi yang perlu Anda ketahui.
Foto: www.freepik.com.
Hipertensi (ilustrasi). Ada beberapa fakto pemicu hipertensi yang perlu Anda ketahui.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spesialis gizi Rumah Sakit Premier Bintaro, dr Yohan Samudra menegaskan, konsumsi garam yang berlebih menjadi pemicu utama timbulnya hipertensi yang berujung pada meningkatnya faktor resiko penyakit jantung. Mengontrol asupan garam menjadi penting, agar terhindar dari faktor risiko serangan jantung.

“Penting bagi kita untuk bisa mencegah faktor-faktor risikonya. Ada beberapa faktor pemicu risiko hipertensi seperti faktor usia, faktor genetik, dan faktor gaya hidup tidak sehat seperti penyakit metabolik (gula darah tinggi, kolesterol tinggi, asupan garam berlebih),” ujar dr Yohan dalam keterangan tertulisnya.

Baca Juga

Dari faktor-faktor tersebut, menerapkan gaya hidup sehat menjadi cara yang paling baik untuk terhindar dari faktor risiko hipertensi. Karena hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang tidak selalu memiliki gejala.

“Bisa saja begitu diukur tiba-tiba tensinya tinggi, atau bisa juga ditandai dengan rasa tidak nyaman, sakit kepala, namun bukan berarti setiap sakit kepala penyebabnya adalah tekanan darah tinggi,” kata dr Yohan lagi dalam peluncuran program Bijak Garam Ajinomoto di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Memperingati Hari Hipertensi sedunia yang jatuh pada Mei ini, ia mengajak seluruh masyarakat untuk lebih menerapkan gaya hidup sehat dengan berolahraga secara teratur, serta mengontrol asupan gula, garam, lemak (GGL) sebagaimana dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Natrium di dalam garam memang menjadi salah satu zat gizi mikro yang membantu mendukung fungsi tubuh. Namun, konsumsi garam berlebih bisa memicu penumpukan cairan yang berlebihan di dalam jaringan tubuh. Cairan ini bisa tertarik masuk ke dalam pembuluh darah dan meningkatkan volume aliran darah.

Kondisi tersebut akan memicu kenaikan tekanan darah dan menyebabkan hipertensi. Ketika seseorang mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi, dalam jangka panjang pembuluh darah akan mengeras dan menyempit. Akibatnya, aliran darah dan oksigen yang disalurkan ke organ tubuh menjadi berkurang.

Jantung akan bekerja ekstra dan meningkatkan tekanan darah yang memicu gagal jantung atau stroke. WHO juga menganjurkan maksimum konsumsi garam sebanyak 5 gram per hari agar dapat membantu mengurangi risiko hipertensi. “Mengurangi asupan garam bisa mengurangi tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung” kata dr Yohan.

Program Bijak Garam yangdigaungkan Ajinomoto hendak mencapai dua tujuan besar yakni memperpanjang harapan hidup sehat satu miliar orang di seluruh dunia dan mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan bisnis hingga 50 persen. Bijak Garam sebagai salah satu inisiasi Health Provider Ajinomoto diharapkan dapat membantu memperpanjang harapan hidup sehat dan mendorong penerapan gaya hidup sehat masyarakat Indonesia. Konsep Bijak Garam merupakan solusi dengan pengaplikasian yang cukup mudah, yaitu dengan mengurangi penggunaan garam dan menambahkan sedikit MSG dalam konsumsi menu harian.

“Kampanye Bijak Garam Ajinomoto ini merupakan salah satu wujud edukasi masyarakat tentang pentingnya diet rendah garam. Penerapan Bijak Garam dalam aktivitas memasak harian juga sangat mudah, cukup dengan mengurangi sebagian penggunaan garam dan menggantinya dengan menambahkan sedikit MSG,” kata Head of Corporate Communications PT Ajinomoto Indonesia, Grant Senjaya.

Misalnya, dalam memasak menu sup ayam, dari yang biasanya menuangkan 2 sendok teh (sdt) garam ke dalam 1 liter kuah, cukup diubah menjadi 1 sdt garam ditambah setengah sdt MSG, dengan tips itu, maka sudah menerapkan konsep Bijak Garam. “Hidup bisa lebih sehat dengan mengurangi asupan atau penggunaan garam dalam mengolah makanan, namun tetap bisa memperoleh cita rasa makanan yang tinggi,” kata Grant.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement