Rabu 22 May 2024 13:10 WIB

Dikerumuni Para Turis, Kota di Jepang Halangi Pemandangan Gunung Fuji yang Viral

Banyaknya pengunjung di Lawson telah mengganggu lalu lintas.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Friska Yolandha
Para pekerja memasang layar hitam besar di trotoar di kota Fujikawaguchiko, prefektur Yamanashi, Jepang tengah pada Selasa, 21 Mei 2024. Beberapa minggu yang lalu, kota tersebut mulai memasang layar hitam besar untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji karena wisatawan berkerumun di area tersebut untuk mengambil foto dengan latar belakang gunung tersebut di sebuah toko serba ada, sebuah fenomena media sosial yang dikenal sebagai Gunung Fuji Lawson yang telah mengganggu bisnis, lalu lintas, dan kehidupan lokal.
Foto: Kyodo News Via AP
Para pekerja memasang layar hitam besar di trotoar di kota Fujikawaguchiko, prefektur Yamanashi, Jepang tengah pada Selasa, 21 Mei 2024. Beberapa minggu yang lalu, kota tersebut mulai memasang layar hitam besar untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji karena wisatawan berkerumun di area tersebut untuk mengambil foto dengan latar belakang gunung tersebut di sebuah toko serba ada, sebuah fenomena media sosial yang dikenal sebagai Gunung Fuji Lawson yang telah mengganggu bisnis, lalu lintas, dan kehidupan lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di satu sisi jalan yang sibuk, pemandangan Gunung Fuji setinggi 3.776 meter dan toko serba ada Lawson di bawahnya telah hilang, ketika petugas menyelesaikan pembatas berukuran 20 m x 2,5 m untuk menghalangi titik foto yang sempat viral di kalangan para wisatawan. 

Dilansir Reuters, Rabu (22/5/2024), bagi penduduk setempat, banyaknya pengunjung dan penolakan mereka untuk mematuhi peraturan tentang membuang sampah sembarangan dan parkir telah menjadi gangguan dan bahaya lalu lintas. 

Baca Juga

“Saya sangat senang orang asing datang ke kota kami,” kata Kikue Katsumata yang berusia 73 tahun. Dia sudah lama tinggal di Fujikawaguchiko, Jepang. 

“Tetapi jika mengambil gambar dari Lawson, jalannya agak sempit dan bisa berbahaya jika orang menyeberang tanpa menggunakan penyeberangan,” ujarnya. 

Bulan Maret dan April mencetak rekor sepanjang masa untuk kedatangan pengunjung. Ini didorong oleh permintaan yang tertahan setelah pandemi dan merosotnya yen ke level terendah dalam 34 tahun menjadikan Jepang sebagai tawaran yang sangat menarik.

photo
Para pekerja memasang layar hitam besar di trotoar di kota Fujikawaguchiko, prefektur Yamanashi, Jepang tengah pada Selasa, 21 Mei 2024. Beberapa minggu yang lalu, kota tersebut mulai memasang layar hitam besar untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji karena wisatawan berkerumun di area tersebut untuk mengambil foto dengan latar belakang gunung tersebut di sebuah toko serba ada, sebuah fenomena media sosial yang dikenal sebagai Gunung Fuji Lawson yang telah mengganggu bisnis, lalu lintas, dan kehidupan lokal. - (Kyodo News Via AP)
 

Hal ini merupakan kabar baik bagi perekonomian, dengan wisatawan yang menghabiskan rekor pengeluaran sebesar  11,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 178,7 triliun dalam tiga bulan pertama tahun 2024, menurut agen pariwisata. 

Keputusan drastis untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji melambangkan ketegangan di seluruh negeri ketika Jepang memperhitungkan dampak dari booming pariwisatanya. Kota metropolitan Osaka bagian barat dan kota resor sumber air panas Hakone termasuk di antara kota-kota yang mempertimbangkan pajak pariwisata baru untuk mengatasi membanjirnya  para pengunjung. 

Cyril Malchand, seorang pengunjung berusia 45 tahun dari Prancis, mengetahui tentang pagar tersebut secara daring dan melakukan perjalanan khusus untuk menjadi orang terakhir yang melihat pemandangan tersebut. Dia mengaku berempati terhadap para warga sekitar. 

“Ketika saya melihat bahwa mungkin ada masalah dengan orang-orang yang menyebrang jalan tanpa mengawasi mobil, saya tidak merasa seburuk itu jika mereka memasang pagar itu,” Katanya. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement