Rabu 17 Apr 2024 21:14 WIB

Mengenal Lebih Dekat Terapi Radiasi untuk Pengobatan Kanker

Sekitar 60 persen lebih pasien kanker di Indonesia memerlukan treatment radiasi

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
 Grup RS Siloam melalui Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) kembali mewujudkan komitmen dan partisipasinya dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya pencegahan, deteksi, dan pengobatan kanker di seluruh Indonesia.
Foto: dok istimewa
Grup RS Siloam melalui Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) kembali mewujudkan komitmen dan partisipasinya dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya pencegahan, deteksi, dan pengobatan kanker di seluruh Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 2022, jumlah penderita kanker di dunia sebanyak 9,6 juta orang. Indonesia menduduki peringkat ke-8 di Asia Tenggara untuk jumlah penderita kanker. Salah satu pengobatan kanker yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan terapi radiasi atau sering dikenal dengan radioterapi.

Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Rumah Sakit Siloam Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Semanggi, Denny Handoyo Kirana, menerangkan, terapi radiasi adalah metode pengobatan kanker yang menggunakan radiasi sebagai pembunuh sel kanker dan upaya pencegahan kanker yang diderita pasien. Sekitar 60 persen lebih pasien kanker di Indonesia memerlukan treatment ini.

“Secara singkat dapat dijelaskan, tahapan awal yang perlu dilakukan adalah pengambilan gambar dari pasien (CT Planning) untuk mendeteksi target radiasi. Lalu, akan dilakukan penentuan titik target dan perencanaan radiasi oleh dokter sebelum dilakukannya radioterapi atau terapi radiasi,” jelas Denny, Rabu (17/4/2024).

Menurut dia, terapi radiasi dipertimbangkan menjadi salah satu treatment untuk beberapa tujuan. Tujuan-tujuan itu, antara lain mengecilkan ukuran tumor sebelum operasi, mengobati kanker, mencegah kanker kembali muncul, dan mengurangi nyeri akibat kanker yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien.

”Jadi, sebelum dilakukan terapi radiasi yang penting adalah penentuan karakter dari kanker tersebut, apakah berespons baik terhadap terapi radiasi atau tidak,” ujar dia.

Terapi radiasi merupakan treatment yang lebih fokus dan tertarget dibandingkan dengan pengobatan kanker yang lain, karena metode itu secara tepat dan akurat hanya menyerang area kanker namun menghindari organ sehat yang berada disekitar target. Hal itu juga menjadi keunggulan dari terapi radiasi dibandingkan metode pengobatan kanker lainnya.

Dia menuturkan, setiap pengobatan lazimnya memiliki risiko efek samping, termasuk terapi radiasi yang dapat dibedakan menjadi dua, yaitu efek samping jangka pendek jika muncul segera hingga di bawah enam bulan dan efek samping jangka panjang jika muncul di atas enam bulan.

Efek samping jangka pendek dapat berupa mual dan muntah kepada  pasien yang mendapat terapi radiasi area perut dan saluran pencernaan, rontoknya rambut pada area kulit yang mendapat terapi radiasi, dan perubahan kulit menjadi kemerahan terhadap kulit yang terkena terapi radiasi.

“Untuk efek samping jangka panjang radioterapi, ada perubahan pada organ terkena radiasi. Jika radiasi diberikan pada organ yang sensitif, dapat memengaruhi fungsi organ jangka panjang. Lalu perubahan pada organ reproduksi, yang mana radioterapi pada area reproduksi dapat berdampak pada kesuburan,” jelas dia.

Dia juga menjelaskan soal jenis-jenis terapi radiasi, yaitu terapi radiasi eksternal dan internal. Terapi radiasi eksternal mengarahkan sinar radiasi ke area tubuh yang terkena kanker dari luar tubuh. Prosedur itu dilakukan dengan menggunakan mesin radiasi yang bergerak di sekitar tubuh pasien.

“Durasi terapi radiasi berbeda-beda bergantung pada rencana pengobatan yang telah ditentukan oleh dokter spesialis onkologi radiasi berkisar antara 4 hingga 15 menit,” kata dia.

Untuk terapi radiasi internal, yang juga dikenal sebagai brachytherapy, melibatkan penempatan sumber radiasi di dekat kanker atau dalam tubuh pasien yang menargetkan kanker area tersebut secara langsung. Metode itu utamanya digunakan untuk mengobati kanker pada kanker serviks, prostat, kepala, dan leher. Prosedur brachytherapy membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit. 

Grup RS Siloam, khususnya MRCCC, telah menjadi pusat perawatan kanker swasta terkemuka di Indonesia yang dilengkapi dengan teknologi terapi radiasi terkini, yakni Linear Accelerator (LINAC) dan brachytherapy. Dengan tersedianya layanan radiasi tersebut, MRCCC dapat melayani lebih dari 36 ribu terapi radiasi per tahunnya untuk pasien kanker. 

Adapun Grup RS Siloam saat ini memiliki total empat alat LINAC yaitu dua di MRCCC, satu di RS Siloam Agora Cempaka Putih, dan satu di RS Siloam TB Simatupang Jakarta Selatan. Dalam waktu dekat, MRCCC akan menambah fasilitas mesin LINAC terbaru sebagai unggulan terapi radiasi yang lebih akurat dan efektif. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement