Selasa 16 Apr 2024 18:56 WIB

Mengapa Nenek Lebih Sayang Cucu Dibandingkan Anaknya?

Nenek merupakan sumber bantuan yang penting di banyak keluarga.

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti
Nenek dan cucu (ilustrasi). Cara nenek memperlakukan cucunya berbeda dibandingkan ke anaknya sendiri.
Foto: Dok. Freepik
Nenek dan cucu (ilustrasi). Cara nenek memperlakukan cucunya berbeda dibandingkan ke anaknya sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang cucu biasanya memiliki hubungan dekat dengan kakek atau neneknya. Hubungan itu telah diteliti dan hasilnya terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Emory University di Atlanta, Georgia.

Studi menunjukkan, cara nenek memperlakukan cucunya berbeda dibandingkan ke anaknya sendiri. James Rilling, seorang profesor antropologi, psikiatri, dan ilmu perilaku di Emory, mengukur fungsi otak sekitar 50 wanita yang memiliki setidaknya satu cucu biologis berusia 3-12 tahun.

Baca Juga

Penelitian ini menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional. Caranya dengan memindai otak para nenek saat mereka menatap foto seorang cucu, orang tua anak tersebut, dan gambar anak-anak serta orang dewasa yang tidak memiliki hubungan keluarga. 

"Ketika nenek melihat foto cucunya, mereka secara khusus mengaktifkan bagian otak yang terlibat dalam empati emosional. Ini seperti korteks somatosensori sekunder dan insular,” kata Rilling tentang temuannya, yang diterbitkan bulan lalu di jurnal Proceedings of the Royal Society B, seperti dilansir laman HuffPost, Selasa (16/4/2024).

Sederhananya, “empati emosional” adalah kemampuan untuk merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Hal lain terjadi ketika kelompok nenek melihat foto anak mereka (orang tua cucu).

Sebelumnya, Rilling dan timnya melakukan penelitian serupa di mana para ayah melihat foto anak-anaknya. Dibandingkan dengan data dari kelompok ayah tersebut, nenek menunjukkan aktivasi yang lebih kuat dibandingkan ayah pada area otak yang terlibat dalam empati emosional dan area yang terlibat dalam penghargaan serta motivasi.

Rilling mengatakan penting dicatat, ada beberapa variasi dari orang ke orang dalam kelompok tersebut. Misalnya, beberapa ayah mempunyai nilai empati yang lebih tinggi dibandingkan nenek.

“Ada banyak bukti bahwa nenek dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan cucu,” kata Rilling.

Sebagai seorang antropolog, Rilling menganggap topik ini sangat menarik. Ia tertarik pada kemiripan dan perbedaan manusia dengan primata lainnya.

Salah satu perbedaan yang menarik adalah cara membesarkan anak. Induk kera besar membesarkan anak-anaknya sendirian. 

Sebaliknya, ibu manusia biasanya menerima bantuan dalam membesarkan anak mereka. Sumber bantuan tersebut bisa berbeda-beda di setiap masyarakat, namun nenek merupakan sumber bantuan yang penting di banyak keluarga.

Rilling mengatakan ada banyak bukti bahwa nenek dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan cucu. Berdasarkan karya para ahli biologi sebelumnya, pada 1980-an dan 1990-an, antropolog Kristen Hawkes mengajukan teori yang disebut sebagai “hipotesis nenek”. 

Gagasannya adalah bahwa manusia perempuan dapat bertahan hidup hingga melewati masa reproduksinya sehingga mereka dapat membantu membesarkan anak-anak dari generasi ke generasi. Mengenai pengaruh unik yang dimiliki cucu di hati neneknya, alasan di balik hal tersebut masih diperdebatkan. Boleh jadi orang tua berhipotesis bahwa hal itu ada hubungannya dengan fakta nenek dapat memanjakan si kecil semaunya dan kemudian mengirim mereka pulang ke rumah ibu dan ayah di penghujung malam. 

Rilling menganggap itu ide yang menarik tetapi merujuk pada hal lain. Ia berpikir ini mungkin lebih berkaitan dengan fenotipe "imut" pada anak-anak, yang mungkin dirancang oleh evolusi untuk membuat orang dewasa menganggap mereka disayangi dan ingin merawat mereka.

Apa kata para nenek?

Marion Conway, nenek dari tiga anak dan blogger di The Grandma Chronicles, berpendapat bahwa ada lebih banyak “perkembangan, kegembiraan, dan kesenangan” yang bisa dirasakan ketika ia bersama cucu-cucunya. Menurut dia, nenek bukan figur otoritas bagi cucu melainkan seorang promotor atau pendukung bagi mereka.

"Sehingga lebih terbuka terhadap hubungan yang bebas stres,” kata dia.

Donne Davis, pendiri komunitas online nenek GaGa Sisterhood yang berbasis di California, mengatakan dia berhubungan dengan ketiga cucunya secara berbeda. Perbedaan kedekatan yang dia rasakan dengan anak-anak versus cucu-cucu-nya didasarkan pada sejarah bersama.

“Mengasuh anak bisa menjadi hubungan yang lebih 'bermusuhan' dengan perebutan kekuasaan, penetapan batas, ego, dan  tanggung jawab yang pasti atas bagaimana anak Anda nantinya," kata dia.

Tetapi nenek tidak memiliki banyak hal seperti itu pada cucu mereka. Nenek hanya mencintai cucu tanpa syarat dan menganggap semua yang mereka lakukan dan katakan adalah hal yang luar biasa.

“Perbedaan terbesar adalah cucu-cucu saya cenderung menimbulkan perasaan gembira dan kesenangan yang kuat pada diri saya dibandingkan dengan anak-anak saya yang sudah dewasa," ujar dia.

Lisa Carpenter, nenek enam cucu di Colorado dan penulis A Love Journal: 100 Things I Love About Grandma, setuju bahwa nenek bisa melakukan “hal-hal menyenangkan” dan menghindari “masalah sulit dalam membesarkan anak”. Carpenter setuju dengan hasil penelitian ini, meskipun bagi dirinya sendiri tidak merasa terlalu lebih terhubung dengan cucu dibandingkan anak-anaknya yang sudah dewasa.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement