Rabu 21 Feb 2024 17:17 WIB

Ciri People Pleaser yang Bisa Merusak Hubungan dengan Pasangan

People Pleaser adalah orang yang selalu menyenangkan orang lain secara berlebihan.

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti
People pleasure (ilustrasi). Berikut ini lima cara people pleaser mengenyampingkan kebutuhan mereka sendiri yang akan merusak hubungan.
Foto: www.freepik.com
People pleasure (ilustrasi). Berikut ini lima cara people pleaser mengenyampingkan kebutuhan mereka sendiri yang akan merusak hubungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi people pleaser atau selalu menyenangkan orang lain secara berlebihan, mungkin tidak nyaman untuk dijalani, terlebih dalam sebuah hubungan. Dampaknya, kemungkinan people pleaser merasa bahwa kebutuhan dan keinginannya tidak terpenuhi. 

Tak hanya dirinya sendiri, suami atau istrinya pun bisa merasa tidak menemukan karakter sebenarnya dari pendamping mereka. Mengubah cara hidup ini tidaklah mudah. "Karena kebanyakan orang yang suka menyenangkan orang sudah melakukannya selama bertahun-tahun," kata terapis pernikahan dan keluarga di Austin, Texas, Abigail Makepeace, dikutip dari Huffpost, Rabu (14/2/2024).

Baca Juga

Seorang people pleaser bisa jadi mengikuti pola yang sama dengan yang ia rasakan dari didikan di lingkungan keluarganya. Sehingga pola itu dibawa ke dalam sebuah hubungan percintaan.

“Setelah sekian lama, memprioritaskan apa yang Anda perlukan bisa terasa berisiko secara emosional. Membela diri sendiri mungkin terasa egois," kata Makepeace.

 

Penting untuk mengetahui bahwa mengalami rasa takut atau rasa bersalah adalah hal yang wajar ketika mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Namun hal itu akan menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu.

Berikut ini lima cara people pleaser mengenyampingkan kebutuhan mereka sendiri yang akan merusak hubungan dan bagaimana cara memperbaikinya:

1. Merasa kesal karena terus-menerus mengutamakan kebutuhan hubungan orang lain

Seorang terapis di Charlotte, North Carolina, Nicole Saunders mengatakan semua hal yang dilakukan untuk menyenangkan orang lain dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam rasio kepuasan hubungan. Dia mencontohkan kasus saat akhir pekan, misalnya, seseorang ingin beristirahat namun malah menuruti jadwal padat, sehingga dia merasa berkorban, namun menganggap pasangan tidak peka.

Padahal seharusnya cara terbaik adalah jujur dan komunikasi terbuka terhada pasangan. Cobalah menegaskan bahwa akhir pekan, misalnya, harus menjadi me time bagi Anda.

2. Anda menghindari konflik yang perlu dan sehat

Bertentangan dengan anggapan umum, pasangan yang bahagia rupanya memang yang sering bertengkar. Orang yang suka menyenangkan orang lain mungkin menghindari pertengkaran dengan cara apa pun. "Namun argumen yang sesekali terjadi tidak hanya akan menyehatkan, tetapi juga memperkuat hubungan," kata Natalie Moore, seorang terapis di Los Angeles.

Ketika pasangan mengatasi konflik secara sadar, mereka dapat meningkatkan kualitas hubungan dengan berkompromi dan secara aktif mencari solusi bersama. Ingatkan pada diri bahwa tujuan berdebat bukanlah untuk menyakiti atau menolak pasangan, namun agar mengatasi masalah dan mencapai resolusi sebagai sebuah tim.

3. Tidak bisa menunjukkan diri Anda yang sebenarnya kepada pasangan 

Jika terus-menerus menyenangkan orang lain, Anda kehilangan kesempatan untuk menunjukkan diri Anda yang sebenarnya dan autentik. Sebaliknya, mereka melihat versi Anda yang hanya mencerminkan kebutuhan teman, keluarga, dan kolega.

"Keintiman sejati membutuhkan berbagi siapa diri Anda sebenarnya," kata Makepeace.

Menurut psikolog di Washington DC, Marie Land, people pleaser sering kali bertanya-tanya bagaimana mereka bisa memercayai perasaan pasangan ketika versi diri yang ditampilkan kepada dunia sangat tidak autentik. Untuk mengatasi masalah ini, Land menyarankan memikirkan kesenangan pribadi dalam skala 1-10. Jika berada di angka 9, turunkan ke angka 7. Teruslah maju seiring peluang yang ada.

Prioritaskan perawatan diri. Jika kesehatan fisik, mental, atau keuangan terganggu, kemungkinan besar nantinya pasangan juga akan ikut terkejut.

4. Mengabaikan perawatan diri 

Orang yang suka menyenangkan orang lain sering kali percaya bahwa mengabaikan perawatan diri hanya berdampak negatif pada satu orang yakni diri mereka sendiri. Namun ketika Anda gagal menjadikan kebutuhan sendiri sebagai prioritas, orang lain juga akan menanggung akibatnya, menurut Moore.

Cara mengatasinya, jadikanlah tujuan untuk mengambil tanggung jawab atas perawatan diri Anda. Untuk memulai, lakukan inventarisasi rutinitas perawatan diri hingga saat ini dan lihat bagaimana hal itu memenuhi kebutuhan Anda.

“Seperti apa jadwal tidurmu? Apakah Anda makan tiga kali sehari bergizi ditambah makanan ringan? Apakah Anda mengambil istirahat makan siang, liburan, dan hari sakit dari pekerjaan? Apakah Anda menggerakkan tubuh Anda dengan cara yang menyenangkan?,” kata Moore. 

Jika Anda gagal dalam salah satu hal di atas, buat komitmen pada diri sendiri untuk memperbaikinya. Anda pantas mendapatkannya.

5. Anda mungkin memiliki lebih sedikit waktu untuk diri sendiri dan hubungan 

Melihat Anda menyerah berulang kali mungkin membuat pasangan Anda frustrasi. Utamanya, jika mereka merasakan ada ketidakseimbangan dalam jumlah waktu dan energi yang tersisa untuk berkontribusi pada hubungan.

Menurut Makepeace, seorang pasangan ingin merasa seolah-olah mereka memiliki prioritas dalam hidup pasangannya. “Akan sangat sulit bagi pasangan Anda untuk melihat Anda mengorbankan kesejahteraan Anda demi membantu orang lain," kata dia.

Cobalah meluangkan hari atau waktu dalam sepekan agar Anda bebas dari mengurus orang lain. Atau misalnya sesekali berhenti memberikan bantuan sukarela dan menunggu untuk diminta sebelum memutuskan membantu atau tidak.

Pada akhirnya, jika Anda mengambil langkah kecil untuk menjaga energi dan waktu Anda sendiri, hal itu akan membantu memelihara hubungan dan diri sendiri. Tentunya ini akan jadi sesuatu yang menyenangkan Anda dan pasangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement