Selasa 20 Feb 2024 16:34 WIB

Anak Suka Tiba-Tiba Lebam? Segera ke Dokter, Bisa Jadi Kanker Darah!

Selain lebam dan pucat, gejala lain leukimia adalah pembesaran kelenjar atau perut.

Anak mengalami lebam tanpa sebab (ilustrasi). Munculnya lebam tanpa sebab di tubuh anak bisa jadi gejala awal kanker.
Foto: Dok. Freepik
Anak mengalami lebam tanpa sebab (ilustrasi). Munculnya lebam tanpa sebab di tubuh anak bisa jadi gejala awal kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis anak di RSUD Tanjung Priok dr Dian Rosita Devy menyarankan anak-anak yang mendadak lebam pada bagian tubuh perlu segera dibawa ke dokter untuk diperiksa. Pasalnya, bisa jadi anak mengalami kanker darah atau leukemia.

"Kanker paling banyak kan leukemia. Itu gejalanya misalnya anak pucat tapi kayak pelan-pelan kok pucat anaknya, atau kadang tiba-tiba ada lebam-lebam kalau bisa konsultasikan ke dokter," ujar dr. Dian dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (20/2/2024).

Baca Juga

Selain lebam dan wajah yang pucat, imbuh Dian, gejala leukemia juga bisa meliputi pembesaran kelenjar atau perut dan demam yang berlangsung lama namun tidak diketahui penyebabnya.

Menurut dia, orangtua sebaiknya mewaspadai gejala-gejala leukemia pada anak bahkan sejak dia lahir karena kanker bahkan bisa dialami sejak seseorang masih bayi.

 

"Bayi bisa kena kanker? Bisa saja, walau kasusnya lebih jarang. Jadi aware dari lahir, kapan kelihatan pucat, lebam-lebam itu kita harus waspada. Jadi enggak ada batasan mulai umur segini harus rajin," tutur dia.

Dian mengatakan leukemia atau kanker darah menjadi yang paling banyak dialami anak-anak di Indonesia, diikuti kanker kelenjar getah bening dan kanker mata atau retinoblastoma.

Menurut data Global Cancer Statistics (Globocan) tahun 2020, jumlah penderita kanker pada anak (0-19 tahun) sebanyak 11.156 kasus. Dari angka itu, leukemia menempati posisi pertama dengan 3.880 (34,8 persen), sedangkan kanker getah bening sekitar 640 (5,7 persen).

Sementara itu, di RSUD Tanjung Priok, Dian mengatakan pernah menemukan kasus leukemia anak sejak bertugas di rumah sakit itu pada tahun 2020, walau tak menyebutkan angkanya secara spesifik.

"Ketemu di kami pernah, lalu kami rujuk. Memang ada yang sudah diterapi, kalau terapi karena saya di RSUD, (penanganan) di RSUD yang lebih lanjut," kata dia.

Kemudian, terkait faktor risiko, menurut Dian, kanker darah, seperti halnya beberapa jenis kanker lainnya bisa disebabkan lebih dari satu faktor seperti genetik dan lingkungan, serta faktor yang belum bisa diketahui.

Oleh karena itu, hingga kini, sambung dia, belum ada cara untuk mencegah kanker khususnya pada anak. Namun, dia menyarankan orangtua dan masyarakat mengutamakan deteksi dini.

Pada kasus kanker darah anak, apabila terdeteksi dini di stadium awal, maka peluang harapan hidup pasien bisa di atas 70 persen. Dia mengatakan saat ini, terapi untuk leukemia berupa kemoterapi.

Sementara itu, terkait deteksi dini, Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya salah satunya melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang memberikan peningkatan wawasan terkait penemuan dini kanker anak di 44 Puskesmas dan Kementerian Kesehatan yang mengeluarkan buku pedoman terkait 10 jenis kanker anak.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement