Jumat 09 Feb 2024 07:11 WIB

Libur Panjang, Tetap Waspada Risiko Diare

Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan.

Sejumlah pengunjung bermain di kawasan hutan pinus, Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/1/2024). Kawasan hutan pinus Cikole yang telah dilengkapi berbagai fasilitas oleh sejumlah pengelola, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Saat musim liburan seperti sekarang ini kawasan tersebut ramai pengunjung.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Sejumlah pengunjung bermain di kawasan hutan pinus, Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (1/1/2024). Kawasan hutan pinus Cikole yang telah dilengkapi berbagai fasilitas oleh sejumlah pengelola, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Saat musim liburan seperti sekarang ini kawasan tersebut ramai pengunjung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Dr Tjandra Yoga Aditama mengimbau masyarakat mewaspadai penyakit diare hingga infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) selama liburan panjang pekan ini. Menurut dia, saat dihubungi di Jakarta, Jumat (9/2/2024), penyakit diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu.

Oleh karena itu, lanjutnya, untuk melindungi diri dari penyakit ini, maka masyarakat perlu melanjutkan kebiasaan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat dan membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari. "Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak lupa menghubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala-gejala diare," katanya. 

Baca Juga

Khusus di Jakarta, data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta merujuk Sistem Informasi Kesehatan (SIK) mengenai diagnosa Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD DKI Jakarta pada 1 Januari 2024 hingga 8 Februari 2024 memperlihatkan angka kasus diare tercatat sebanyak 2.812.

Selanjutnya, penyakit yang juga perlu masyarakat waspadai ialah penyakit demam dengue atau demam berdarah dengue (DBD). Tjandra menjelaskan, vektor penyakit DBD yakni nyamuk aedes aegypti yang berkembang biak pada air bersih.

Pada musim hujan saat ini, dimungkinkan ada tempat perindukan nyamuk dan memberikan kesempatan kepada nyamuk berkembang biak yang pada akhirnya meningkatkan faktor risiko terjadinya penularan penyakit demam dengue. Kemudian, genangan-genangan air di beberapa kontainer yang sebelumnya tidak berisi air, seperti ban-ban bekas, kaleng yang berserakan serta talang-talang rumah yang kontruksinya kurang bagus, juga memberikan kesempatan kepada vektor penyakit demam berdarah untuk berkembang biak.

Tjandra mengimbau, masyarakat mewaspadai penyakit demam tifoid yang sangat erat kaitannya dengan ketersediaan air bersih. Penyakit ini mudah menular melalui makanan minuman yang diproses kurang bersih.

"Jadi, hati-hati dan selalu jaga kebersihan di libur panjang hari-hari ini," katanya.  Selanjutnya, penyakit lain yang juga perlu diwaspadai yakni leptospirosis. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira ini ditularkan melalui kotoran dan air kencing tikus.

Pada musim hujan, terutama saat terjadi banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia sehingga kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir.

Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran dan kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, berpotensi terinfeksi dan akan jatuh sakit. Untuk mengantisipasi penyakit leptospirosis, maka perlu menjaga kebersihan agar tak ada tikus berkeliaran, tidak bermain air saat banjir, terutama jika memiliki luka, serta memakai pelindung seperti sepatu jika terpaksa harus ke daerah banjir.

Dia menganjurkan masyarakat segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil. Terakhir, waspadai pula penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).

Tjandra mengatakan pada situasi liburan dan musim hujan, kejadian ISPA akan meningkat. Data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sejak 1 Januari 2024 hingga 8 Februari 2024 menunjukkan kasus penyakit tertinggi yakni demam (9.662 kasus), diikuti dispepsia sebanyak 3.314 kasus, infeksi saluran pernapasan atas akut dengan jumlah kasus 2.834 kasus, lalu nyeri perut sebanyak 2.825 kasus, serta diare 2.812 kasus.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement