Sabtu 03 Feb 2024 19:04 WIB

Jangan Buru-Buru Sodorkan Susu Formula, Dukung Ibu Beri ASI untuk Bayinya

Ibu membutuhkan dukungan untuk menyusui bayinya.

Ibu menyusui (Ilustrasi). Bayi yang melekat dengan baik pada payudara tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam dalam satu sesi menyusu.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Ibu menyusui (Ilustrasi). Bayi yang melekat dengan baik pada payudara tidak akan menghabiskan waktu berjam-jam dalam satu sesi menyusu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dukungan keluarga penting dalam pemberian air susu ibu (ASI) kepada anak. Tanpa dukungan keluarga, ibu bisa kesulitan memberi makanan terbaik di enam bulan pertama kehidupan bayinya.

 

Baca Juga

"Kurangnya dukungan dari pasangan dan juga keluarga, serta mitos-mitos salah yang masih dipercaya di masyarakat, membuat ibu kadang menjadi tidak percaya diri, mendapat tekanan, tidak didukung, dan tidak diperhatikan kesehatan mentalnya, sehingga membuat program ASI eksklusif terhambat," ujar dokter spesialis anak Agnes Tri Harjaningrum dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/2/2024).

Pemberian ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan bayi penting karena itu menentukan status gizi mereka di masa depan. Dokter Agnes menyebut, ASI pasti yang terbaik jika dibandingkan susu formula.

"ASI merupakan zat gizi utama yang harus diberikan untuk anak pada masa awal kelahiran," kata dokter anak dari Rumah Sakit Permata Depok, Jawa Barat ini.

Persoalannya, tidak semua ibu beruntung diberi kemudahan memberikan ASI. Ada beberapa keadaan yang membuat pemberian ASI menjadi terkendala, misalnya, sang ibu harus mengonsumsi obat tertentu, ibu mengalami pendarahan pascapersalinan yang membuat ibu harus masuk unit perawatan intensif (ICU), atau ibu mengidap penyakit tertentu yang bisa menular ke bayinya, baik secara langsung atau melalui ASI.

Kondisi bayi pun kadang membuat proses menyusui ASI terhambat. Misalnya, bayi yang lahir prematur dan harus dirawat di ruangan khusus atau neonatal intensive care unit (NICU), bayi harus terpisah dari ibu, atau bayi memiliki penyakit metabolik sehingga pemberian ASI terkendala.

 

"Sebetulnya, kita semua sepakat ya bahwa ASI adalah yang terbaik. Tetapi sekali lagi bahwa dunia ini tidak hitam putih, ada abu-abunya, ada kondisi tertentu di mana seorang ibu memang tidak mampu memberikan ASI, yang juga harus kita maklumi dan diberikan solusi, bukan lalu mengatakan bahwa ibu tersebut bukan ibu yang baik," ucap Agnes yang menamatkan spesialisasinya di Universitas Indonesia dan juga alumni Charite Medical School (Berlin-Jerman) & ISPED itu.

Dokter Agnes menjelaskan bahwa permasalahan pemberian ASI di Indonesia cukup kompleks. Di luar dari kondisi medis, tidak jarang pemberian ASI menjadi terhambat akibat kurangnya dukungan suami dan keluarga, kurangnya pengetahuan ibu dalam memberikan ASI, dan kepercayaan turun-temurun yang masih diyakini padahal salah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement