Kamis 01 Feb 2024 16:42 WIB

Bercanda dalam Islam DIperbolehkan Tapi Ada Batasannya, Apa Itu?

Islam mengajarkan agar bercanda tidak berlebihan.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Seorang pria tertawa (ilustrasi). Dalam Islam, ada pedoman bercanda yang pelru diperhatikan oleh Muslim dan Muslimah.
Foto: Dok. Freepik
Seorang pria tertawa (ilustrasi). Dalam Islam, ada pedoman bercanda yang pelru diperhatikan oleh Muslim dan Muslimah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam interaksi sehari-hari, momen bercanda kerap terjadi di antara teman, keluarga, hingga antara pengguna media sosial (medsos). Meski bercanda terasa menyenangkan, tetap ada rambu-rambu yang diperhatikan. Rambu-rambu ini bertujuan agar materi bercanda tidak melewati batas dan menyakit orang lain.

Dilansir Islam Digest Republika pada Kamis (1/2/2024), Islam memiliki pedoman dalam bercanda. Islam sebagai agama yang lengkap memberikan tuntunan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal bercanda. Agar bercanda tetap etis dan tidak melanggar norma agama, Rasulullah SAW memberikan contoh dan pedoman kepada umatnya.

Baca Juga

Dalam sebuah hadis dari Hasan RA, diceritakan bahwa seorang perempuan tua datang kepada Rasulullah SAW dan meminta doa agar dimasukkan ke dalam surga. Namun, Rasulullah SAW dengan bijak menjelaskan bahwa surga tidak dimasuki oleh orang yang sudah tua renta. Hal ini untuk memberi pemahaman bahwa surga dijanjikan kepada mereka yang mencapai kondisi tertentu.

Pedoman dalam bercanda dalam Islam:

 

1. Tidak berlebihan

Islam mengajarkan agar bercanda tidak berlebihan, karena canda yang berlebihan dapat menjatuhkan kehormatan seseorang.

2. Tidak menjadi cacian dan cemoohan

Allah SWT dalam Alquran menegaskan agar tidak mengolok-olok atau mencemooh kaum lain, karena mungkin mereka lebih baik di mata Allah SWT.

3. Bukan kebiasaan

Bercanda tidak boleh menjadi kebiasaan karena kesungguhan dan seriusitas juga merupakan karakter penting dalam Islam.

4. Isi canda tidak dusta

Islam mendorong untuk tidak membuat canda yang berisi dusta atau dibuat-buat, karena kejujuran diutamakan.

5. Tidak menggunakan aspek agama sebagai materi canda

Aspek agama tidak boleh dijadikan materi canda, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan. Dengan mengikuti pedoman ini, umat Islam diharapkan dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh etika dan keberkahan, termasuk dalam berbagai interaksi sosial.

Dilansir Muslimah Wahdah Islamiyah, Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Ustadz Aswanto Muhammad Takwi menjelaskan bahwa Islam mengajarkan adab ketika mendengar kabar buruk yang menimpa orang lain. Beberapa adab yang disarankan antara lain:

1. Mengucapkan kalimat isrtirja’ (Innaalillahi wa innaa ilaihi rajiun).

2. Meyakini bahwa semua itu adalah takdir Allah SWT.

3. Memuji Allah SWT yang tidak memberinya musibah tersebut.

4. Mengirimkan ucapan belasungkawa (takziah) kepada orang yang tertimpa musibah.

Ustadz Aswanto menegaskan pentingnya menjaga sikap dan komentar agar tetap sesuai dengan tuntunan syariat. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement