Rabu 27 Dec 2023 09:03 WIB

Stres dan Cemas Melanda Selama Liburan, Bagaimana Cara Meredakannya?

Liburan juga bisa membuat orang kelelahan, memicu stres dan kecemasan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Sejumlah wisatawan piknik saat mengunjungi kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (17/6/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan uji coba pembukaan Monas secara bertahap dan terbatas dimulai dari kawasan luar tugu dengan jam operasional mulai pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB.  Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah wisatawan piknik saat mengunjungi kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Jumat (17/6/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan uji coba pembukaan Monas secara bertahap dan terbatas dimulai dari kawasan luar tugu dengan jam operasional mulai pukul 06.00 WIB hingga 16.00 WIB. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim liburan diharapkan sebagai waktu bersantai atau momen menyenangkan untuk berkumpul dengan orang-orang tersayang. Namun, tidak menutup kemungkinan periode liburan itu juga sangat melelahkan, serta memicu stres dan kecemasan.

Psikolog Jon Hunt yang menjalankan praktik swasta di Hay River, Kanada, mengatakan itu merupakan hal yang wajar. Dia justru menyarankan seseorang yang cemas dan stres saat liburan untuk tidak menghindari atau menekan perasaan tersebut.

Baca Juga

"Ketika kita menyebutkan suatu perasaan dan mengakuinya, hal itu dapat membantu kita untuk mengatasinya, daripada terus terjebak di dalamnya," kata Hunt, dikutip dari laman CBC News, Rabu (27/12/2023).

Hunt mengatakan ada cara berbeda untuk mengatasi beberapa perasaan. Untuk menghadapi kecemasan yang muncul bersamaan dengan perasaan terasing atau kesepian, cobalah menemukan koneksi dengan orang-orang yang dipercaya.

 

Sementara itu, untuk menghadapi kecemasan ketika menghadapi anggota keluarga yang 'sulit' atau interaksi menyebalkan dengan orang tertentu, ada cara lain yang dia rekomendasikan. Ingatkan kepada diri sendiri bahwa momen tersebut hanya sementara, tidak akan berlangsung selamanya.

Sering kali, ketika ada orang lain yang berkomentar tajam dalam percakapan, kita menginternalisasikan hal itu. Pola pikir demikian disebut Hunt perlu diubah. Sebab, tak selalu ucapan sinis ditujukan kepada kita atau ada sesuatu yang salah pada diri kita.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement