Selasa 05 Dec 2023 11:47 WIB

Jalan-Jalan ke Thailand Jangan Iseng Coba Ganja, Ini Bahayanya

Kini sudah banyak mahasiswa Indonesia yang datang ke wilayah selatan Thailand.

Rep: Santi Sopia/ Red: Natalia Endah Hapsari
Pelancong bisa melakukan wisata religi, kuliner halal dan keindahan alam di Thailand Selatan. Ada Pattani yang melarang tempat maksiat, judi dan punya mall wakaf pertama di dunia. Wilayah ini juga dikelilingi beberapa pantai.
Foto: Republika/Santi Sopia
Pelancong bisa melakukan wisata religi, kuliner halal dan keindahan alam di Thailand Selatan. Ada Pattani yang melarang tempat maksiat, judi dan punya mall wakaf pertama di dunia. Wilayah ini juga dikelilingi beberapa pantai.

REPUBLIKA.CO.ID, THAILAND SELATAN — Wisatawan Indonesia yang berkunjung ke negara Thailand terus meningkat, salah satunya ke wilayah selatan. Di wilayah ini dulunya dikenal dengan daerah konflik, tetapi beberapa tahun belakangan justru menarik banyak wisatawan, termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Menurut Suargana Pringganu, Consul/Head of Mission Consulate Republik Indonesia (RI), sekarang bukan lagi konflik yang dikhawatirkan, tapi lebih kepada perlunya mematuhi peraturan di negara masing-masing bagi wisatawan. Kini sudah banyak mahasiswa Indonesia yang datang ke wilayah selatan Thailand, seperti Narathiwat, Yala, Pattani, dan Songkhla.

Baca Juga

Mereka juga umumnya datang dalam rangka program praktik kerja lapangan. Jumlah warga Indonesia yang mengajar di sana juga terus meningkat. 

“Kekhawatiran saya bukan lagi masalah konflik, tapi di Thailand ini boleh dilegalkan konsumsi ganja dalam batas tertentu, jangan misalnya iseng atau lupa bawa botol bekas minum mau pamer karena di sini banyak jual air ganja, nah pulang ke Indonesia urusan bisa jadi panjang,” kata Suargana di sela acara ASEAN Halal Expo di Asean Mall Pattani, pada akhir November.

 

Negara Thailand diketahui telah mengubah kebijakannya dengan melegalkan ganja dan menghapusnya dari jenis narkotika. Hal tersebut hanya bertujuan untuk alasan medis atau pengobatan, bukan rekreasi atau bersenang-senang. 

Tentara Thailand Selatan juga menjamin keamanan dan keselamatan pelancong di negaranya, termasuk soal legalitas ganja. Namun, tentu ketika wisatawan pulang ke negara masing-masing yang punya aturan tidak melegalkan ganja, maka sudah di luar wewenang Thailand untuk melindungi pelancong itu.

Suargana mengatakan dari program merdeka belajar, membuat semakin banyak mahasiswa yang memilih Thailand sebagai tempat mereka melanjutkan pendidikan. Sebaliknya, pelajar Thailand juga banyak yang berminat menimba ilmu di Indonesia, khususnya ke insitusi pendidikan Islam.

“Tapi konsulat menitipkan pesan jangan melakukan ha-hal yang tidak kita lakukan di indonesia, misal keluar malam karena musibah bisa di mana saja, tidak hanya di selatan sini tapi di Indonesia juga. Jangan melakukan sesuatu di tempat dan waktu yang salah. Kedua, mahasiswa agar bisa punya asuransi,” kata dia.

Jumlah wisatawan yang datang ke wilayah selatan Thailand telah mencapai tiga juta orang sampai Oktober 2023, dengan sekitar 20 persennya merupakan orang Indonesia. Rata-rata mereka adalah pelancong dari Malaysia yang melanjutkan perjalanan ke selatan Thailand.

Menurut dia, peluang kerjasama Indonesia dengan selatan Thailand, bisa meliputi pelabuhan, ekspor, impor, karena sangat berdekatan dengan Sumatra. Terkait pelancongan, perhubungan dan perdagangan juga berpotensi besar untuk semakin dikembangkan. “Apalagi dalam jangka panjang akan ada, misalnya Thai Kanal. Kalau itu terwujud. posisi Thailand Selatan akan strategis menghubungan dengan lautan china selatan,” ujarnya.

Ada satu kemajuan saat ini, yakni kerjasama transaksi pembayaran QRIS yang sudah dirintis sejak 2012 dan berlaku pada Agustus 2022. Kerja sama ini juga dilakukan Indonesia dengan Malaysia dan Vietnam.

Dia menambahkan bahwa bukan hanya di bidang pendidikan, tetapi juga kesehatan yang punya potensi untuk mempererat kerjasama kedua negara. Sebab tercatat kurang lebih satu juta orang Indonesia yang memilih perawatan medis ke luar negeri dengan total menghabiskan dana 11,5 miliar dolar AS atau Rp 170 triliun. Rata-rata dari mereka memilih ahli kanker, jantung, tulang, gigi hingga kosmetik. Thailand menjadi salah satu negara pilihan perawatan medis, di samping Singapura, Malaysia, Korea, dan Jepang. “Klaim asuransi lebih mudah, kita anjurkan ke pelancong punya asuransi,” ujar dia. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement