Sabtu 25 Nov 2023 19:54 WIB

Sebelum Indonesia, Ini Deretan Negara yang Sudah Pakai Wolbachia untuk Perangi DB

Nyamuk wolbachia dikembangbiakkan di laboratorium serangga.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Nyamuk Aedes aegypti yang suah disuntikkan wolbachia (ilustrasi). Sebelum Indonesia, beberapa negara susah menerapkan teknologi wolbachia untuk menurunkan kasus demam berdarah:
Foto: www.freepik.com
Nyamuk Aedes aegypti yang suah disuntikkan wolbachia (ilustrasi). Sebelum Indonesia, beberapa negara susah menerapkan teknologi wolbachia untuk menurunkan kasus demam berdarah:

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak hanya Indonesia, sejumlah negara di dunia telah menerapkan teknologi wolbachia untuk menekan angka kasus demam berdarah dengue. Beberapa negara itu antara lain Singapura, Brasil, Australia, Sri Lanka, Vietnam, dan sejumlah lokasi lain di Amerika Latin dan Oseania.

Ada perbedaan antara teknologi wolbachia yang diterapkan di Indonesia dengan negara lain? Pakar kesehatan masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Adi Utarini, pada webinar nasional Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), menjelaskan ada perbedaan dalam metode penyebaran nyamuk wolbachia di Indonesia dan Singapura.

Baca Juga

Perempuan berhijab yang biasa disapa dengan panggilan Profesor Uut itu menyebutkan, nyamuk wolbachia dikembangbiakkan di laboratorium serangga. Nyamuk wolbachia adalah nyamuk demam berdarah yang tubuhnya sudah memiliki bakteri alami wolbachia.

Fungsi bakteri itu adalah menghambat dan mengurangi replikasi atau perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk demam berdarah. "Ada dua metode penyebaran nyamuk wolbachia. Metode pertama, supression, atau menghambat, dan metode kedua adalah replacement, atau mengganti," kata Uut.

Dia terlebih dahulu menjelaskan prinsip cara kerja bakteri wolbachia dalam proses regenerasi nyamuk Aedes aegypti. Jika nyamuk jantan yang tubuhnya memiliki bakteri wolbachia kawin dengan nyamuk betina yang tidak memiliki bakteri wolbachia, telur nyamuk tidak akan menetas.

Sementara itu, jika nyamuk betina memiliki bakteri wolbachia di tubuhnya, sementara nyamuk jantan tidak, semua telur yang menetas akan menghasilkan nyamuk yang di dalam tubuhnya mengandung bakteri wolbachia. Jika kedua nyamuk, baik jantan dan betina yang kawin, sama-sama memiliki bakteri wolbachia di tubuhnya, nyamuk dari telur yang menetas juga akan memiliki bakteri wolbachia.

Uut mengatakan, metode penyebaran wolbachia di Singapura menggunakan cara supression. Caranya, dengan melepaskan nyamuk jantan yang di tubuhnya ada bakteri wolbachia.

Dengan begitu, meski nyamuk kawin, telur nyamuk tidak menetes. Jika pelepasan dilakukan terus-menerus dalam jumlah besar, populasi nyamuk diharapkan berkurang, bahkan hilang.

Itu berbeda dengan negara-negara yang menerapkan World Mosquito Program (WMP), termasuk Indonesia, Brasil, Australia, dan sejumlah lainnya. Metode pelepasan yang digunakan adalah replacement, atau mengganti nyamuk dengan nyamuk yang lebih "aman" karena sudah memiliki wolbachia di tubuhnya.

Bukan nyamuk dewasa yang dilepaskan ke masyarakat, tapi melalui peletakan telur nyamuk yang dimasukkan di ember kecil di rumah masyarakat. "Yang dituju bukan menurunkan populasi nyamuk, tapi menggantikan nyamuk Aedes aegypti dengan nyamuk Aedes aegypti yang sudah memiliki wolbachia sehingga tingkat virusnya sudah sangat rendah," kata Uut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement