Selasa 21 Nov 2023 07:48 WIB

Dalam Satu Menit, Pasien Stroke Bisa Alami Kerusakan 1,9 Juta Sel Saraf  

Faktor risiko terhadap stroke, di antaranya hipertensi, diabetes, dan kolesterol.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Friska Yolandha
Stroke (ilustrasi). Saat kejadian stroke, seseorang bisa mengalami kerusakan sekitar 1,9 juta sel dalam waktu satu menit.
Foto: Pixabay
Stroke (ilustrasi). Saat kejadian stroke, seseorang bisa mengalami kerusakan sekitar 1,9 juta sel dalam waktu satu menit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini, stroke merupakan salah satu penyakit yang sangat mengancam kesehatan masyarakat. Saat kejadian stroke, seseorang bisa mengalami kerusakan sekitar 1,9 juta sel dalam waktu satu menit. 

Hal tersebut diungkapkan oleh dokter spesialis saraf di RS Siloam TB Simatupang, dr Peter Gunawan Ng. Ia menjelaskan stroke bisa diartikan sebagai defisit neurologis vokal yang muncul mendadak yang diakibatkan dari gangguan pada pembuluh darah di otak, retina dan medula spinalis. 

Baca Juga

Faktor risiko terhadap kejadian stroke, di antaranya hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, merokok, atau gangguan irama jantung. 

Dalam penyakit stroke terdapat istilah ‘time is brain’ dan ‘golden hour’. Menurut dr Peter, time is brain merujuk pada suatu konsep di mana bila penanganan stroke dilakukan semakin cepat akan membuahkan hasil yang lebih baik. Berdasarkan publikasi dari Saver (2006), pada saat kejadian stroke dalam satu menit sekitar 1,9 juta sel saraf akan mengalami kerusakan. 

"Sehingga penanganan yang cepat akan mengurangi kerusakan yang lebih besar. Setiap detik dan menit akan sangat berharga ketika saraf-saraf di otak mengalami kerusakan akibat stroke. Oleh karena itu, penanganan cepat dan tepat ketika seseorang mengalami stroke menjadi sangat penting," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (21/11/2023).

Dalam penanganan stroke penyumbatan dikenal pula istilah ‘golden hour’, di mana dalam kurun waktu 4,5 jam dari saat mulai timbul gejala stroke, terapi trombolisis bisa diberikan. Pada periode tersebut, penanganan medis yang cepat dan tepat dapat memaksimalkan peluang pemulihan pasien. 

Penanganan awal pasien stroke di ruangan emergency meliputi stabilisasi kondisi pasien. Perlu dilakukan diagnostik seperti CT-Scan Kepala atau MRI Kepala untuk membedakan apakah pasien mengalami stroke perdarahan atau stroke penyumbatan. 

Dua jenis stroke

Stroke secara umum bisa dibedakan menjadi dua tipe, yaitu ischemic stroke dan hemorrhagic stroke. Ischemic stroke, merupakan jenis stroke yang paling umum terjadi dan disebabkan oleh adanya penyumbatan pembuluh darah otak atau orang menyebutnya sebagai stroke sumbatan, sehingga terjadinya gangguan suplai okseigen dan makanan ke jaringan otak. Sedangkan hemorrhagic stroke atau orang awam menyebutnya sebagai suatu stroke perdarahan, di mana terjadi pecahnya pembuluh darah di dalam otak, yang juga berakibat terganggunya suplai oksigen dan makanan. 

Adapun untuk jenis obat yang mungkin diberikan kepada pasien juga berbeda, tergantung pada tipe stroke yang dialami oleh pasien.Untuk tipe ischemic stroke (stroke sumbatan), pengobatan terbaik yang diberikan adalah dengan trombolisis, yaitu obat yang digunakan untuk melarutkan gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak. Dengan kembalinya aliran darah otak akan mengurangi kerusakan pada jaringan otak. Sedangkan untuk hemorrhagic stroke (stroke perdarahan), pengobatan yang diberikan adalah untuk mengontrol atau menghentikan perdarahan. Sehingga mencegah terjadinya bertambahnya perdarahan. 

“Setiap pasien stroke mungkin membutuhkan penanganan obat yang berbeda-beda tergantung pada kondisi dan faktor-faktor individu. Oleh karenanya, penting untuk segera mendapatkan penanganan medis yang tepat dan berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan pengobatan yang tepat saat mengalami gejala stroke,” ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement