Kamis 09 Nov 2023 19:09 WIB

Ketika Israel Terus Bombardir Gaza, Rumah Sakit di Ambang Kehancuran 

Sebanyak 18 rumah sakit di Gaza dan 51 klinik kesehatan terpaksa tutup.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Friska Yolandha
Seorang wanita Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit al-Shifa, menyusul serangan udara Israel di Kota Gaza, Jalur Gaza tengah.
Foto: AP Photo/Abed Khaled
Seorang wanita Palestina yang terluka dibawa ke rumah sakit al-Shifa, menyusul serangan udara Israel di Kota Gaza, Jalur Gaza tengah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli bedah plastik Inggris-Palestina Ghassan Abu Sitta memperingatkan bahwa sektor kesehatan di Gaza sedang berada di ambang kehancuran. Lelaki yang bekerja di Rumah Sakit Shifa dan Al Ahli di Gaza Utara mengatakan Gaza sudah mencapai titik saat bahan bakar habis di semua tempat. Tentunya, ini akan memengaruhi operasional rumah sakit.

“Bencana ini sebenarnya akan berakhir dalam waktu empat hari. Tidak ada satu pun rumah sakit tersisa di Gaza yang memiliki cukup bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan generator lebih dari empat hari," kata Abu Sitta.

Baca Juga

Dilansir ABC News, Kamis (9/11/2023), Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 18 dari 35 rumah sakit di Gaza dan 51 dari 72 klinik layanan kesehatan primer terpaksa ditutup karena kekurangan bahan bakar atau kerusakan akibat pengeboman Israel. Selain itu, Israel tidak mengizinkan bahan bakar memasuki Jalur Gaza dan menuduh Hamas menimbun bahan bakar yang ditujukan untuk rumah sakit dan keperluan kemanusiaan.

Rumah sakit di Gaza yang masih berfungsi kini mengalami penurunan kapasitas. Para petugas medis berjuang menghadapi kekurangan pasokan medis dan bahan bakar, melimpahnya pasien, dan ancaman pengeboman Israel.

 

Israel telah mengebom Jalur Gaza tanpa henti selama 32 hari terakhir sebagai pembalasan atas serangan  mendadak Hamas pada 7 Oktober. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 10 ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 25 ribu orang terluka di Gaza.

Dengan kondisi yang memprihatikan, sistem kesehatan Gaza tidak dapat mengatasinya. Terlebih, jumlah pasien yang semakin hari bertambah. Oleh karena itu, petugas medis hanya menjalankan operasi tertentu, terutama yang bisa menyelamatkan nyawa.

"Ada pasien yang datang dua pekan setelah mereka seharusnya pergi ke ruang operasi dengan larva lalat di lukanya dan nanah keluar karena mereka tidak sampai ke ruang operasi tepat waktu," ujar dia.

Setelah operasi, tidak ada tempat bagi pasien untuk pergi. Sebab, staff rumah sakit tidak bisa memulangkan pasien ke rumah yang telah dibom.

"Itulah mimpi buruknya. Anda melakukan operasi lalu tidak ada tempat yang aman bagi mereka untuk memulihkan diri," ucapnya.

Rumah Sakit Shifa memiliki kapasitas 600 tempat tidur dan kini menampung lebih dari 2.000 orang yang terluka selain 50 ribu pengungsi internal. Rumah Sakit Shifa telah kehilangan 50 persen ruang operasi karena kurangnya listrik sehingga prosedur dilakukan di bangsal dan koridor. Prosedur bedah ini dilakukan seperti Abad Pertengahan.

Agensi Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengumumkan pengiriman bantuan kedua sejak awal perang telah dilakukan pada Rabu.

Namun, jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebetuhan yang sangat besar di wilayah Gaza. Abu Sitta sangat prihatin dengan dampak perang, khususnya anak-anak Gaza.

“Seorang anak yang terluka tanpa keluarga yang selamat, Anda menemukannya setiap beberapa hari. Ini menyedihkan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement