Jumat 20 Oct 2023 10:20 WIB

K-Wave Bisa Jadi Inspirasi Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia

Film jadi alat komunikasi yang sangat efektif untuk mempromosikan nilai budaya.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Friska Yolandha
Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam dalam pembukaan Korea Indonesia Film Festival (KIFF) 2023 di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (19/10/2023).
Foto: Republika/Umi Nur Fadhilah
Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam dalam pembukaan Korea Indonesia Film Festival (KIFF) 2023 di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (19/10/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonomi kreatif telah menjadi salah satu sektor yang menjanjikan bagi Indonesia, dengan inspirasi yang diambil dari kesuksesan K-Wave Korea. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam, menyoroti potensi besar yang dimiliki oleh ekonomi kreatif, khususnya dalam subsektor film.

“Ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor yang menjadi harapan baru bagi Indonesia dan sudah terbukti, ini sukses dilakukan oleh Korea,” kata Neil dalam pembukaan Korea Indonesia Film Festival 2023 di CGV grand Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (19/10/2023) malam.

Baca Juga

Neil mengatakan film diakui sebagai alat komunikasi yang sangat efektif untuk mempromosikan nilai-nilai sosial, budaya, dan potensi ekonomi kreatif. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam subsektor film, animasi, dan video pada  2021, dengan pertumbuhan sebesar 6,31 persen dan kontribusi sebesar Rp 2,69 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kontribusi sektor ekonomi kreatif secara keseluruhan terhadap PDB nasional mencapai 6,98 persen, atau setara Rp 1.134 triliun pada tahun yang sama.

Sebagai bukti bahwa film lokal semakin digemari, catatan jumlah penonton film Indonesia terus meningkat. Sebelum pandemi pada 2019, Indonesia mencapai rekor tertinggi dengan 51,9 juta penonton, dan tahun lalu, angka ini mencapai 55 juta penonton. Ini menunjukkan momentum yang signifikan yang perlu dimanfaatkan, terutama dengan Indonesia yang memiliki beragam cerita unik dan lokasi syuting yang diminati oleh pelaku film dari berbagai negara.

Selain itu, bahasa daerah di Indonesia saat ini menjadi aset penting, terutama bagi produser film yang ingin mengeksploitasi pasar berbahasa daerah yang luas. Dalam konteks ini, Indonesia juga dapat mengambil inspirasi dari keberhasilan K-Wave Korea, yang telah memengaruhi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif negara tersebut.

“Indonesia dapat mencontoh keberhasilan Korea dengan K-wave nya, dan dapat kita lihat bagaimana dampak K-wave ini pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Korea,” ujar Neil.

Korea telah berhasil mencapai kesuksesan K-Wave-nya, terutama dalam industri hiburan, berkat pertumbuhan pesat dalam ekosistem ekonomi kreatif. Karena itu, Neil mengatakan Kemenparekraf berkomitmen untuk mendukung sektor perfilman Indonesia agar lebih maju dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Neil juga memberikan apresiasi tinggi atas sinergi dan kolaborasi yang telah terjalin melalui KIFF yang ke-14 kali. Dia menjadikan momen ini sebagai kesempatan istimewa untuk memperingati 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement