Kamis 05 Oct 2023 11:14 WIB

Mitos Pilek dan Flu yang Masih Sering Dipercaya Hingga Kini, Apa Saja?

Percaya mitos mengenai flu dan pilek justru berpotensi berimbas pada kesehatan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Flu (ilustrasi). Mitos tentang flu dan pilek yang masih sering dipercaya.
Foto: Republika/Mardiah
Flu (ilustrasi). Mitos tentang flu dan pilek yang masih sering dipercaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada sejumlah mitos tentang pilek dan flu yang masih dipercaya banyak orang. Padahal, semua itu bisa jadi tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Meyakini atau menerapkan mitos berpotensi berimbas pada kesehatan. Berikut lima di antaranya, dikutip dari laman Prevention, Kamis (5/10/2023):

Baca Juga

1. Vitamin C dosis besar bantu cegah flu

Suplemen vitamin C banyak dipasarkan untuk mencegah flu atau mempercepat pemulihannya. Padahal, menurut penelitian, efek positif konsumsi suplemen vitamin C pada kebanyakan orang terpantau cukup terbatas.

 

Dokter pengobatan keluarga di Mayo Clinic Health System, Jennifer Johnson, justru menyebut konsumsi suplemen vitamin C dosis tinggi dapat menyebabkan banyak hal negatif bagi tubuh. Contohnya, memunculkan rasa mulas, mual, sakit kepala, bahkan batu ginjal.

Kecuali seseorang menjalani pola makan yang tidak menyertakan buah-buahan dan sayur-sayuran sama sekali, dokter berpendapat tidak perlu mengonsumsi suplemen vitamin C. Jaga kesehatan dengan berolahraga, asupan nutrisi baik, tidur cukup, dan manajemen stres.

2. Keluar rumah tanpa jaket memicu pilek

Faktanya, kemunculan pilek dan flu bukan karena tubuh terpapar cuaca dingin, melainkan akibat inveksi virus. Namun, memang benar bahwa udara musim dingin yang kering membuat virus lebih mudah menular, tapi bukan suhu dingin itu penyebab flu dan pilek.

Mengenakan jaket, mantel, dan pakaian hangat di musim dingin memang tetap berguna, tapi untuk menghindari radang dingin dan hipotermia, juga agar tubuh terasa nyaman. Akan tetapi, tidak mengenakannya pun tak akan membuat seseorang serta-merta mengidap flu.

3. Vaksin flu menyebabkan terserang flu

Menurut pakar, ini tak mungkin terjadi. Sebab, suntikan vaksin flu mengandung virus yang tidak aktif, yang artinya virus tersebut tidak lagi menular. Meskipun vaksin semprot hidung mengandung virus hidup, namun virus tersebut dilemahkan sehingga hanya dapat berkembang biak di hidung, bukan di paru-paru.

Beberapa hal yang tampak seperti gejala flu, seperti sakit kepala, demam, dan nyeri otot usai mendapat vaksin flu kemungkinan besar merupakan efek samping vaksin yang memicu respons imun dalam tubuh. Namun, tubuh akan mendapat perlindungan dari penyakit itu.

4. Orang sehat tidak perlu vaksin flu

Pada kenyataannya, orang yang menganggap dirinya sehat masih bisa tertular flu, dan penyakit itu tetap bisa berakibat buruk. Bahkan jika sistem kekebalan tubuh dapat melawan penularannya, vaksin itu tetap perlu membantu melindungi orang-orang di sekitar.

"Setiap tahun, ada generasi muda sehat yang meninggal dunia karena flu, dan hampir tanpa kecuali mereka (yang meninggal dunia) belum menerima vaksinasi (flu)," ujar direktur penyakit menular anak di NYU Langone Health, Adam Ratner.

5. Produk susu akan memperburuk flu

Ada sensasi produksi lendir meningkat ketika seseorang yang mengidap pilek minum susu atau mengonsumsi produk olahan susu lainnya. Tetapi, susu dan produk turunannya bukan penyebab bertambahnya cairan kental yang melapisi mulut dan tenggorokan itu.

Jika memang tidak menyukai rasa susu di tenggorokan setelah meminumnya saat mengidap flu dan pilek, beralihlah ke teh atau air. Akan tetapi, kebutuhan cairan harus tetap dipenuhi dengan baik karena tubuh sedang membutuhkan banyak cairan. 

 

 

 

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement