Kamis 03 Aug 2023 20:11 WIB

Terobosan Baru, Ilmuwan Sebut ADHD Bisa Disembuhkan dalam Dua Pekan

Obat ADHD saat ini punya efek samping sakit kepala dan kehilangan nafsu makan.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda
Obat-obatan (ilustrasi). Peneliti menemukan obat baru untuk ADHD.
Foto: www.piqsels.com
Obat-obatan (ilustrasi). Peneliti menemukan obat baru untuk ADHD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti menemukan pengobatan terbaru untuk attention deficit hyperactivity (ADHD) dapat secara signifikan memperbaiki gejalanya dalam dua pekan saja. Hal ini bisa menjadi harapan bagi ribuan orang.

 

Baca Juga

Para ahli memperkirakan bahwa hingga lima persen anak usia sekolah memiliki gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, yang ditandai dengan kegelisahan terus-menerus dan kesulitan berkonsentrasi.

Para peneliti dari University of Surrey dan Hebrew University of Jerusalem bergabung untuk menguji apakah stimulasi otak noninvasif yang dikombinasikan dengan pelatihan kognitif dapat secara signifikan memperbaiki gejala gangguan ADHD pada anak-anak.

 

Uji klinis mereka mempelajari 23 anak dengan ADHD berusia antara enam hingga 12 tahun, yang tidak menjalani pengobatan untuk itu. Teknik stimulasi otak melibatkan pengaliran arus listrik ringan melalui otak, melalui dua elektroda.

 

Lebih dari setengah (55 persen) dari anak-anak yang menjalani pengobatan itu menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan dalam gejala ADHD, setelah hanya dua pekan, seperti yang dilaporkan oleh orang tua mereka. Perawatan itu juga dianggap aman dan memiliki efek samping yang minimal.

Sebagai perbandingan, hanya 17 persen anak-anak dalam kelompok kontrol tersebut (yang menerima stimulasi otak plasebo) menunjukkan perbaikan gejala. Para peneliti juga mengamati bahwa perbaikan gejala anak bertahan selama tiga pekan setelah pengobatan berakhir. Mereka juga memperhatikan perubahan pola aktivitas listrik otak anak-anak selama tiga pekan masa tindak lanjut.

 

"Bahkan, 64 persen anak-anak melaporkan tanggapan yang bermakna secara klinis terhadap perawatan. Ini dibandingkan dengan 33 persen pada kelompok kontrol," kata penulis penelitian, dilansir The Sun, Kamis (3/8/2023).

 

Kepala Sekolah Psikologi dan Profesor Ilmu Saraf Kognitif di Universitas Surrey, Roi Cohen Kadosh, yang juga memimpin penelitian, mengatakan bahwa temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi stimulasi arus searah transkranial (tRNS), yang terbukti aman dengan efek samping minimal, berpotensi mengubah kehidupan anak-anak dan keluarganya.

 

"Hasil dari studi proof-of-concept ini, bersama dengan hasil sebelumnya yang kami terima menggunakan tRNS, meningkatkan keyakinan kami, bahwa stimulasi otak non-invasif di masa depan mungkin dapat memberikan alternatif pengobatan sebagai jalur pengobatan untuk anak-anak," kata Prof Kadosh.

 

Prof Kadosh mencatat bahwa penting untuk menguji lebih lanjut hasil pada kelompok anak-anak yang lebih besar, yang akan segera dimulai oleh tim. Jika berhasil, perangkat medis itu akan disetujui untuk pengobatan ADHD oleh Food and Drug Administration (FDA).

 

"Saya percaya bahwa komunitas ilmiah berkewajiban untuk menyelidiki dan mengembangkan perawatan yang lebih efektif dan tahan lama untuk ADHD," kata Prof Kadosh.

 

ADHD cenderung diobati dengan pengobatan yang dapat meningkatkan rentang perhatian anak dan suasana hati secara keseluruhan. Namun, terkadang dapat menimbulkan efek samping seperti sakit kepala dan kehilangan nafsu makan.

 

Gejala ADHD dapat dikategorikan menjadi dua jenis perilaku, yakni kurang perhatian dan hiperaktif atau impulsif. Tidak semua orang yang memiliki kelainan itu akan termasuk dalam kedua kategori ini, hal yang sama berlaku untuk anak-anak. Menurut panduan NHS, gejala biasanya akan terlihat pada anak-anak sebelum mereka berusia enam tahun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement