Rabu 12 Jul 2023 21:32 WIB

Cuaca Ekstrem, 17 Penonton Konser Ed Sheeran Dilarikan ke RS

Henti jantung dapat terjadi sebagai komplikasi serangan panas.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda
Penyanyi Ed Sheeran. Cuaca panas ekstrem membuat penonton konser Ed Sheeran di Pittsburgh, AS bertumbangan.
Foto: EPAe
Penyanyi Ed Sheeran. Cuaca panas ekstrem membuat penonton konser Ed Sheeran di Pittsburgh, AS bertumbangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada akhir pekan lalu, Ed Sheeran mengadakan konser di Stadion Acrisure, Pittsburgh, Amerika Serikat. Di tengah cuaca ekstrem yang panas, 17 orang sampai perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit, dua orang mengalami serangan jantung, dan satu orang mengalami kejang.

"Personel Biro EMS Pittsburgh yang bekerja selama konser Ed Sheeran menerima 37 panggilan untuk layanan, dengan 17 transportasi ke rumah sakit," kata siaran pers dari Pittsburgh EMS, dikutip dari Today, Rabu (12/7/2023).

Baca Juga

Menurut pernyataan tersebut, dua korban yang mengalami serangan jantung itu adalah orang-orang yang bekerja di acara tersebut. Seorang paramedis yang meninggalkan konser mengalami serangan jantung, dan seorang karyawan yang membongkar panggung juga mengalami serangan jantung.

Menurut American Academy of Cardiology, henti jantung dapat terjadi sebagai komplikasi serangan panas. Sebuah studi tahun 2022 di jurnal CJC Open mencatat bahwa ketika suhu meningkat di seluruh dunia karena perubahan iklim, kemungkinan orang akan mengalami lebih banyak tekanan pada sistem kardiovaskular.

 

Orang-orang yang memiliki penyakit kardiovaskular mungkin berisiko lebih tinggi terkena strok akibat cuaca panas. Menghabiskan terlalu banyak waktu di luar rumah dalam cuaca panas dapat menyebabkan seseorang mengalami serangan panas, penyakit terkait panas yang paling serius.

Ketika seseorang mengalami serangan panas, mereka tidak dapat mengontrol suhu tubuhnya. Dalam kasus yang sama, suhu dapat melonjak hingga lebih dari 106 derajat hanya dalam waktu 15 menit. Pada saat yang sama, seseorang yang mengalami serangan panas tidak lagi dapat berkeringat, yang biasanya membantu menurunkan suhu tubuh. Kombinasi ini bisa mematikan.

Gejala serangan panas, menurut CDC, meliputi kebingungan, bicara cadel, koma, kulit panas dan kering, berkeringat ekstrem, dan peningkatan suhu tubuh yang berbahaya. Serangan panas dianggap darurat, CDC dan Ready.gov merekomendasikan untuk menelepon layanan darurat jika alami dugaan serangan panas agar segera mendapatkan perawatan cepat.

Serangan panas ini bisa berakibat fatal jika tidak segera diatasi. Ready.gov juga merekomendasikan agar waspada terhadap penyakit terkait panas lainnya, seperti kram panas dan kelelahan akibat panas.

Tanda-tanda kram panas meliputi nyeri atau kejang di perut, lengan, atau kaki. Kemudian tanda-tanda kelelahan panas meliputi berkeringat banyak, kehilangan penglihatan warna, kram otot, kelelahan, kelemahan, denyut nadi cepat atau lambat, pusing, pingsan, mual, sakit kepala, dan muntah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement