Jumat 19 May 2023 20:25 WIB

Coldplay Dipuji Difabel, 'Kami Jadi Paham Lagu yang Dibawakan'

Aksi Coldplay dianggap sebagai sebuah kemajuan, khususnya dalam bidang musik.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Band Coldplay. Coldplay mengusung konsep inklusivitas dalam konsernya yang memungkinkan kaum difabel dapat menikmati penampilan band tersebut.
Foto: EPA
Band Coldplay. Coldplay mengusung konsep inklusivitas dalam konsernya yang memungkinkan kaum difabel dapat menikmati penampilan band tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konser Coldplay di Jakarta pada 15 November 2023 mengusung konsep inklusivitas. Artinya, konser juga bisa dinikmati semua kalangan, termasuk penonton difabel.

Promotor TEM Presentes dan PK Entertainment juga sudah menyatakan akan menghadirkan juru bahasa isyarat (JBI) untuk penonton difabel. Dengan begitu, penonton yang tidak bisa mendengar atau mengalami gangguan dan keterbatasan pendengaran, yang disebut teman tuli, tetap bisa menikmati konser. Seorang teman tuli bernama Abhi Praya Ifander Rafi, mengapresiasi inisiatif yang dilakukan band asal London, Inggris, tersebut.

Baca Juga

"Itu sangat bagus sebab teman-teman tuli bisa menjadi paham seperti apa lagu-lagu yang dibawakan," ujar Abhi saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (19/5/2023).

Pemuda 22 tahun yang menjabat sebagai ketua di Cerita Teman Tuli (Tatuli) mengetahui band Coldplay dan cukup menyukainya. Dia pun ikut bersemangat karena Chris Martin (vokal), Jonny Buckland (gitar), Guy Berryman (bas), dan Will Champion (drum) akhirnya menggelar konser di Indonesia.

Abhi belum pernah menonton secara langsung konser musik yang menyediakan juru bahasa isyarat, tetapi pernah menonton tayangan videonya. Dia sangat senang band papan atas sekelas Coldplay tergerak untuk melakukannya. "Sangat menarik, supaya teman-teman tuli bisa ikut menikmati dan bergembira," kata Abhi.

Juru bahasa isyarat Frans Susanto menganggap aksi Coldplay tersebut sebagai sebuah kemajuan, khususnya dalam bidang musik. Dia senang sebab seni suara dan musik tidak hanya bisa diakses lewat indra pendengaran, tetapi juga penglihatan atau visual yang sangat bermanfaat bagi komunitas tuli.

"Sudah saatnya memang masyarakat mengusahakan dunia yang inklusif dan setara dalam berbagai bidang, termasuk bidang hiburan," kata Frans.

Pria 43 tahun itu menyebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan juru bahasa isyarat saat akan menerjemahkan bahasa lisan ke bahasa isyarat di sebuah konser musik. Menurut Frans, juru bahasa isyarat perlu memahami makna lagu yang akan diterjemahkan.

Saat tampil pun, juru bahasa isyarat harus mendapat pencahayaan yang cukup sehingga terlihat jelas oleh teman tuli. Bila memungkinkan, juru bahasa isyarat perlu disorot atau diperbesar dalam layar khusus sehingga lebih nyaman terlihat. Utamanya, oleh teman tuli yang berada cukup jauh dari layar.

Selain itu, penyelenggara acara perlu menyambut teman tuli dan mengantarkan ke lokasi menonton yang disediakan. Usher atau panitia yang bisa berbahasa isyarat juga dibutuhkan untuk memandu penonton tuli. Fasilitas umum seperti toilet, mushola, dan lainnya pun perlu memiliki penanda yang memadai di tempat konser.

Frans sudah menjadi juru bahasa isyarat selama lebih dari 20 tahun. Dia mendapati bahwa kini sudah mulai banyak artis yang menghadirkan juru bahasa isyarat atau bahkan belajar bahasa isyarat dalam lagu mereka. Dia menyebutkan beberapa nama, seperti Citra Scholastika, Yura Yunita, dan Anji.

Pendiri Indosign Academy itu pun pernah menjadi juru bahasa isyarat di konser, antara lain pada penampilan grup vokal Infiniti Singers dan grup vokal pria bernama Ariera. "Semoga makin banyak penyanyi atau band yang hadirkan juru bahasa isyarat dalam konser atau lagu-lagu mereka," kata Frans.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement