Jumat 21 Apr 2023 11:06 WIB

Berkeringat Hingga Basah Kuyup Saat Malam, Waspadai 7 Jenis Kanker Ini

Jangan ragu berkonsultasi ke dokter jika mengalami keringat malam yang sangat banyak.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti
Berkeringat banyak pada malam hari (ilustrasi). Jika Anda terbiasa berkeringat banyak pada malam hari, waspadai jenis kanker ini.
Foto: www.freepik.com
Berkeringat banyak pada malam hari (ilustrasi). Jika Anda terbiasa berkeringat banyak pada malam hari, waspadai jenis kanker ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diperkirakan sekitar satu dari dua orang akan mengembangkan beberapa bentuk kanker selama hidup mereka. Meskipun ada gejala spesifik yang terkait dengan jenis penyakit tertentu seperti benjolan di dada yang menandakan kanker payudara, namun ada juga gejala yang lebih umum. Hal ini dapat membuat mereka sulit didiagnosis.

Menurut lembaga amal Cancer Research UK, mengeluarkan keringat malam yang sangat banyak atau demam adalah salah satu gejala umum kanker yang harus diwaspadai. Hal ini dapat disebabkan secara langsung oleh penyakit itu sendiri atau sejumlah alasan lain yang terkait, seperti pengobatan, infeksi, dan perubahan hormon.

Baca Juga

“Berkeringat pada malam hari atau mengalami suhu tubuh yang tinggi (demam) dapat disebabkan oleh infeksi atau efek samping dari obat-obatan tertentu. Hal ini juga sering dialami oleh wanita di sekitar masa menopause,” kata lembaga tersebut seperti dilansir laman Express, Kamis (20/4/2023).

Namun bagaimanapun, Cancer Research UK juga mendorong untuk tak ragu berkonsultasi dengan dokter jika mengalami keringat malam yang sangat banyak hingga basah kuyup, atau demam yang tidak bisa dijelaskan. Ada tujuh jenis kanker yang dapat menyebabkan Anda berkeringat lebih banyak dari biasanya yakni limfoma non-Hodgkin, Limfoma Hodgkin, tumor karsinoid, leukimia, mesothelioma, kanker tulang, dan kanker hati.

 

Cancer Research UK juga mengatakan, infeksi adalah salah satu penyebab keringat yang paling umum terjadi pada pasien kanker. Infeksi dapat membuat seseorang mengalami suhu tinggi dan tubuh berkeringat untuk menguranginya.

“Mengobati infeksi dapat mengendalikan atau menghentikan keringat,” demikian menurut Cancer Research UK.

Rasa panas dan berkeringat dapat disebabkan oleh perubahan kadar hormon. Kadar hormon seseorang bisa berubah karena kanker itu sendiri, atau karena pengobatan seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi hormon.

“Perawatan untuk kanker payudara dapat membuat wanita mengalami menopause dini. Bagi sebagian wanita, hal ini menyebabkan rasa panas dan berkeringat. Wanita yang telah mengalami menopause dapat mengalami hot flashes lagi ketika mereka memulai pengobatan hormon," kata Cancer Research.

Begitu pula pria, mereka bisa mengalami hot flashes (sensasi panas di tubuh yang muncul tiba-tiba) dan berkeringat ketika menjalani pengobatan hormon untuk kanker prostat atau kanker payudara. Pasalnya, hal itu mengurangi jumlah testosteron dalam tubuh.

“Penelitian terbaru membantu kami untuk memahami mengapa perubahan kadar hormon seks menyebabkan rasa panas dan berkeringat. Hal ini diperlukan untuk menemukan pengobatan yang lebih baik untuk gejala-gejala ini,” kata Cancer Research UK.

Badan amal tersebut mengatakan, berkeringat dan muka memerah bisa menjadi efek samping dari beberapa perawatan obat, termasuk kemoterapi dan morfin. Gejala kanker umum lainnya yang perlu diwaspadai meliputi kelelahan, pendarahan atau memar yang tidak bisa dijelaskan, nyeri atau sakit yang tidak bisa dijelaskan, penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan, lalu benjolan atau pembengkakan yang tidak biasa di tubuh.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement