Senin 17 Apr 2023 17:07 WIB

Tiktoker Bima Yudho Diminta Lakukan Ini oleh Orang Tua Setelah Video Lampung Viral

Orang tua Bima Yudho menyinggung soal cara berucap, terutama pada orang tua.

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Qommarria Rostanti
Tangkapan layar konten Tiktoker Bima Yudho Saputro tentang Provinsi Lampung. Di unggahan terbaru, Bima menyampaikan pesan orang tuanya kepada dirinya. (ilustrasi)
Foto: Tiktok/@awbimaxreborn
Tangkapan layar konten Tiktoker Bima Yudho Saputro tentang Provinsi Lampung. Di unggahan terbaru, Bima menyampaikan pesan orang tuanya kepada dirinya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama Tiktoker Bima Yudho Saputro beberapa hari ini viral di dunia maya. Setelah membuat konten di Tiktok "Tentang Lampung", nama Bima ramai menjadi perbincangan.

Di konten tersebut, Bima melakukan presentasi daring yang mengulas beberapa alasan mengapa Lampung tidak maju-maju. Alasan yang dijelaskan mulai dari infrastruktur yang terbatas hingga ketergantungan pada sektor pertanian.

Baca Juga

Dikutip dari akun Tiktok Bima @awbimaxreborn pada Senin (17/4/2023), konten terbaru yang dia unggah berjudul "Bebas Ekspresi". Konten tersebut dibuka dengan Bima yang menyebutkan untuk beberapa alasan dirinya tidak suka menjadi terkenal. Dia juga mengungkapkan semenjak videonya viral, orang-orang mengikuti media sosialnya.

“Hampir satu juta lho Kak yang follow gue di Tiktok ini dan Instagram gue tiba-tiba sudah 200 ribu lebih followers-nya. Unexpectable. Ada yang mau endorse? Kena lo,” ujar Bima.

 

Berikutnya, Bima mengatakan bagaimanapun dia merasa sekarang kurang bahagia, kurang menikmati, dan dia merasa ini bukan dirinya. “Karena the last time orang tua gue nyampein pesan ke gue. Sri dan Juli (panggilan Bima untuk orang tuanya-Redaksi) bilang sekarang ucapannya harus lebih ditata lagi ya, harus menggunakan inisial Pak, Bu untuk orang-orang yang lebih tua. Kalau sama kita enggak apa-apa, kita bestie,” kata Bima menceritakan pesan dari orang tuanya.

I know we are best friend. Tapi gue merasa kayak lho katanya bebas berekspresi. Kenapa harus ada tapi? Apakah ini tidak terjadi untuk negara konservatif seperti Indonesia? Yes,” katanya lagi.

Lebih lanjut Bima mengatakan, banyak orang terutama generasi muda yang nyablak seperti dirinya sebenarnya, cuma tidak berani angkat bicara atau speak up karena takut salah berbicara, ada istilah sopan santun dan etika.

“Padahal gue sebenarnya tidak berniat jahat atau melakukan kriminal ya Kak ketika gue ngucap nama orang yang lebih tua kayak namanya langsung. Mohon maaf kalau memang tersindir dan sakit hati banget, mohon maaf, mohon maaf banget. Gue udah kebiasaan gitu, makanya memang target market audience gue tuh segmented banget dari awal,” ujar pria asal Lampung ini menjelaskan.

Menurut Bima, cuma orang-orang tertentu saja yang memiliki pikiran terbuka (open minded) yang bisa menerima konten-kontennya dengan konotasi-konotasi yang selalu dia ucapkan di videonya. Pria yang telah lulus dari Australian College of Business Intelligence (ACBI) Sydney Australia ini mengutarakan kesimpulan di akhir kontennya.

“Kesimpulannya gue menganggap ya dan emang ini kesimpulannya tuh di Indonesia tuh kamu harus sopan santun gitu. Kamu harus benar-benar extra paying attention bersosial media gitu, harus bijak bersosial media gitu,” katanya.

Dia mengatakan hanya ingin mengkritik pemerintah dengan gayanya. “Yang katanya negara freedom, negara freedom enggak sih? Enggak ya?” ujar Bima mempertanyakan.

Bima melanjutkan, ”Negara yang penuh aturan tapi aturannya dilanggar oleh orang-orang yang membuat aturan itu sendiri. Kena lo. Yang penting berkelakukan baik, yang penting sopan, nanti kan dapat remisi tahanan," ujarnya.

Di sisi lain, Bima banyak membuat konten video lainnya di Tiktok (@awbimaxreborn). Beberapa judul kontennya adalah Betah di Sydney, Kuliah di LN, Kenapa Macquarie, Lampung part 2, APBD Lampung, dan lain sebagainya. Selain Tiktok, Bima yang berbasis di Sidney ini memiliki media sosial Instagram (@awbimax), YouTube, Twitter (@awbimaxx), dan LinkedIn.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement