Jumat 14 Apr 2023 16:12 WIB

Alasan Serial 'Harry Potter' Dianggap Sebagai Ide Buruk

Aktor yang memerankan trio ikonik berada di bawah bayang-bayang Daniel Radcliffe Cs.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Poster film Harry Potter (ilustrasi). Kehadiran Harry Potter dalam versi serial dinilai sebagai ide buruk.
Foto: Warner Bros
Poster film Harry Potter (ilustrasi). Kehadiran Harry Potter dalam versi serial dinilai sebagai ide buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warner Bros telah mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan serial treaming baru dari waralaba Harry Potter. Serial ini adalah proyek ambisius selama 10 tahun untuk layanan streaming HBO Max, yang diganti namanya menjadi Max mulai 23 Mei 2023.

Harry Potter adalah salah satu waralaba paling ikonik sepanjang masa dengan serangkaian novel sukses yang mengarah ke adaptasi film. Para penggemar dapat mengunjungi Hogwarts secara langsung di berbagai taman hiburan Universal Studios di seluruh dunia hingga menjelajahinya dalam video game terbaru Hogwarts: Legacy.

Baca Juga

Gagasan tentang serial televisi “Harry Potter” akan mendapat tanggapan hangat pada 10 tahun lalu. Namun kini, berita itu datang dengan beban yang sangat besar. Hal ini menyusul kekecewaan box office terhadap film Fantastic Beasts, komentar kontroversial dari penulis JK Rowling, dan evaluasi ulang budaya, maka berita tentang seri “Harry Potter” terdengar tidak perlu.

Dilansir Movie Web pada Jumat (14/4/2023), berikut ini tiga alasan mengapa menceritakan kembali kisah Harry Potter sebagai serial televisi adalah ide yang buruk:

 

1. Membuat ulang film dinilai tidak perlu

Sejak film Harry Potter keluar, dan setelah serial buku lama berubah menjadi seri televisi seperti “True Blood and Game of Thrones”, ada kemungkinan penggemar akan menganggap Harry Potter lebih baik sebagai serial televisi. Struktur tahun sekolah mengarah ke struktur cerita episodik yang cocok untuk televisi. Tidak seperti “Game of Thrones” atau “True Blood”, cerita Harry Potter tidak akan cocok, apalagi waralaba ini berhasil menemukan struktur filmnya.

Sei novel seperti Percy Jackson atau A Series of Unfortunate Events masuk akal sebagai serial televisi karena adaptasi filmnya dianggap gagal, bahkan tidak pernah menyelesaikan ceritanya. Harry Potter tidak hanya mengadaptasi setiap buku, tetapi filmnya juga disukai dan menjadi hit box office.

Setiap film dalam waralaba Harry Potter masuk dalam 10 besar film dengan pendapatan kotor tertinggi pada tahunnya masing-masing, dengan Harry Potter and the Sorcerer's Stone dan Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 meraup 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 14,6 triliun) di seluruh dunia. Film-film ini penting untuk seluruh generasi.

Meskipun ada beberapa penggemar yang mungkin kecewa dengan subplot tertentu, film Harry Potter tersebut tetap mempertahankan semangat buku dan mengadaptasi elemen-elemen penting. Film-film Harry Potter sudah menceritakan kisahnya dengan sempurna. Menghadirkannya sebagai serial televisi terdengar seperti hanya menceritakan kisah yang sama lagi, hanya diregangkan selama berpekan-pekan dengan tempo yang lebih buruk.

2. Menyusun ulang peran akan menjadi hal aneh

Trailer teaser yang dirilis Warner Bros mengumumkan proyek tersebut menggunakan kembali musik tema ikonik John Williams Harry Potter dan memamerkan Hogwarts yang terlihat di film aslinya. Tampaknya, tim produksi akan mempertahankan elemen-elemen itu, tetapi hanya menyusun ulang karakternya.

Mencoba membayangkan kembali Hogwarts atau membuat tema baru untuk waralaba dinilai tidak masuk akal. Kenapa tim produksi repot-repot? Apa gunanya membuat ulang jika mereka hanya akan menggunakan kembali set dan musik yang sama?

Setiap anak yang berperan sebagai trio ikonik akan berada di bawah bayang-bayang Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson. Itu juga membutuhkan penyusunan ulang peran ikonik, seperti Albus Dumbledore, Voldemort, Severus Snape, dan banyak lagi. Bagi begitu banyak pemirsa, aktor dari serial aslinya adalah karakter tersebut, dan proyek tersebut tidak membenarkan mengapa peran ini perlu disusun ulang sejak awal.

3. Ada cara lebih baik untuk mengembangkan Harry Potter

Membuat ulang Harry Potter sebagai serial televisi adalah cara paling membosankan untuk mempertahankan waralaba. Mereka menceritakan kembali kisah yang sama, yang telah diceritakan dua kali, dalam buku dan film. Kenapa mereka terus kembali ke cerita lama yang sama? Padahal ada banyak bahan untuk dijelajahi di alam semesta Harry Potter.

Beberapa orang mungkin menunjukkan kekecewaan box office dari waralaba Fantastic Beasts, tetapi itu seharusnya tidak membuat tim produksi takut untuk melakukan sesuatu yang baru dengan waralaba Harry Potter. Penggemar telah meminta selama bertahun-tahun untuk melihat kisah ayah Harry dan teman-temannya di Hogwarts.

Kisah para Hogwarts Founders bisa jadi triloginya sendiri. Serial bertema olahraga Quidditch, seperti Ted Lasso atau Cobra Kai adalah ide yang bagus. Bahkan, membuat serial Dumbledore muda akan lebih baik daripada menceritakan kembali cerita yang sama yang sudah diketahui penonton.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement