Senin 13 Mar 2023 10:39 WIB

Film Navalny, Potret Kritikus Putin, Menang Oscar untuk Dokumenter Terbaik

Dokumenter mengikuti kisah Navalny saat pulih dari keracunannya di Siberia.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Indira Rezkisari
Daniel Roher dan kru film dokumenter Navalny menerima piala Oscar untuk film dokumenter terbaik, Senin (13/3/2023) di Teater Dolby, Los Angeles, AS.
Foto: AP Photo/Chris Pizzello
Daniel Roher dan kru film dokumenter Navalny menerima piala Oscar untuk film dokumenter terbaik, Senin (13/3/2023) di Teater Dolby, Los Angeles, AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Film Navalny (2022) memenangkan penghargaan Oscar untuk kategori film fitur dokumenter pada Senin (13/3/2023) pagi waktu Indonesia. Navalny menceritakan tentang pemimpin oposisi Rusia bernama Alexei Navalny yang hampir terbunuh karena racun dan penahanannya saat kembali ke Moskow pada tahun 2021.

Setelah mendengarkan pengumuman pemenang, sutradara Daniel Roher segera menuju ke atas panggung. Istri Navalny, Yulia Navalnaya juga mengikutinya. Dia mengatakan suaminya ditahan karena mengatakan kebenaran.

Baca Juga

“Suami saya dipenjara hanya karena membela demokrasi. Alexei, saya bermimpi saat kamu bebas dan negara kita akan bebas. Tetap kuat cintaku, terima kasih,” kata Yulia, dikutip Reuters, Senin (13/3/2023)

Film yang diproduksi oleh CNN Films dan HBO Max mengikuti Navalny saat dia pulih di Jerman dari keracunannya di Siberia. Dia mendapat racun saraf era Soviet.

Racun tersebut menurut negara-negara Barat adalah upaya pembunuhan negara Rusia untuk membungkamnya karena telah mengkritik Presiden Vladimir Putin. Namun, pemerintah Rusia telah membantah terlibat dalam upaya ini.

Dalam film, Navalny bekerja bersama outlet berita investigasi Bellingcat. Bersama rekannya yang lain, mereka membuka kedok agen Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) yang dikirim untuk meracuni Navalny pada tahun 2020. Navalny, berpura-pura menjadi pejabat Rusia, memanggil salah satu agen yang menjelaskan rencana peracunan tersebut.

Dia memutuskan untuk kembali ke Rusia pada Januari 2021 bersama Yulia dan banyak pendukung menunggu kedatangannya. Dia ditangkap di bandara lalu dijatuhi hukuman gabungan 11,5 tahun penjara dalam dua kasus penipuan terpisah.

“Alexei, dunia belum melupakan pesan penting Anda kepada kami semua. Kita tidak boleh takut untuk menentang diktator dan otoritarianisme di mana pun itu muncul," kata Roher saat menerima penghargaan tersebut dengan istri, anak perempuan dan anak laki-laki Navalny.

Putrinya, Daria Navalnaya, mengaku sangat senang bahwa film tersebut mendapatkan perhatian yang layak. "Jangan berhenti memperjuangkan demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia dan kami akan mengeluarkan ayah saya. Kami akan terus berjuang," ujar dia.

Navalny (46 tahun) merupakan salah seorang dari beberapa suara oposisi yang tersisa di Rusia dan menjalani hukumannya di koloni hukuman dengan keamanan maksimum di Rusia. Pendukung mengatakan kesehatannya memburuk.

Saat mengajukan banding pada bulan Mei melawan salah satu hukumannya, Navalny menyebut Putin sebagai orang gila. Putin kata dia memulai perang bodoh melawan Ukraina yang membantai orang-orang tak bersalah di Ukraina dan Rusia. Pada akhir film, Navalny memberikan pesan kepada rakyat Rusia jika dia terbunuh. "Kamu tidak diizinkan untuk menyerah," ucap dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement