Kamis 02 Mar 2023 07:25 WIB

Tips Mengantisipasi Kondisi tak Terduga Saat Mendaki Gunung, Pemula Harus Tahu

Buat pendaki yang benar-benar baru, tunda dulu keinginan untuk naik Gunung Slamet.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda
Pendaki berkemah di gunung (Ilustrasi). Terlepas dari destinasinya, fisik, logistik, pengetahuan, dan skill mendaki gunung tetap harus disiapkan dengan baik.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Pendaki berkemah di gunung (Ilustrasi). Terlepas dari destinasinya, fisik, logistik, pengetahuan, dan skill mendaki gunung tetap harus disiapkan dengan baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berada dalam kondisi darurat saat mendaki gunung dapat menimbulkan rasa panik. Namun, dengan persiapan yang matang, beragam risiko yang mungkin terjadi saat menjalani olahraga ekstrem ini bisa diantisipasi dengan baik.

Ketua Mapala Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) periode 2011-2012, Mahardeka Dhias, menceritakan beberapa kondisi tak terduga yang pernah dialaminya selama pendakian. Naik Gunung Slamet pada September 2022, ia mengatakan track-nya memang terjal.

Baca Juga

"Pesan saya buat teman-teman pendaki yang benar-benar baru, Gunung Slamet nanti dulu," kata Dhias saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (1/3/2023).

Dhias merekomendasikan agar pemula menjajal terlebih dahulu  Gunung Papandayan atau Gunung Prau sebelum menapaki jalur pendakian yang lebih berat. Terlepas dari destinasinya, fisik, logistik, pengetahuan, dan skill tetap harus disiapkan dengan baik.

 

Selama pendakian, Dhias juga pernah dihadapkan pada kondisi-kondisi darurat, misalnya, ketika menghadapi alergi yang dideritanya. Ketika suhu semakin dingin tubuh Dhias justru semakin panas.

Dhias menganjurkan untuk mengomunikasikan kondisi kesehatan masing-masing dengan rekan satu tim. Dengan begitu, tim akan mengingat siapa saja yang memiliki penyakit pribadi dan harus terus dalam pengawasan.

Berbicara mengenai kasus hipotermia yang menewaskan anggota Mapala Universitas Jenderal Soedirman di Gunung Slamet, Dhias mengingatkan para pendaki yang memiliki riwayat kesehatan seperti dirinya harus membawa obat-obatan pribadi. Begitu merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh, beri tahu teman.

"Saya pernah juga bareng sama teman yang punya penyakit asma, dia tahu sekali kondisi badannya seperti apa. Dia tahu kapan harus istirahat, kapan harus pakai alat untuk oksigennya, alhamdulillah kami dampingi terus," ujar dia.

Dhias juga pernah dihadapkan pada situasi di mana banyak orang yang kambuh penyakit pribadinya, namun dengan pendampingan sesama anggota tim, semua selamat. Lain halnya jika kondisi semakin parah, lebih baik berhenti dan turun.

Tersasar di gunung, menurut Dhias, merupakan hal biasa. Dia mengaku sudah sering dialaminya. Tetapi karena sudah kenal dengan gunungnya, timnya bisa kembali dengan baik-baik saja.

"Perlu diingat, dalam suatu kelompok tetap harus ada satu orang berpengalaman agar bisa memberi arahan yang tepat dalam kondisi darurat," kata Dhias.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement