Selasa 28 Feb 2023 15:34 WIB

Tak Mudah Atasi Burnout, Tapi 5 Kiat Ini Layak Dicoba

Generasi yang paling terdampak oleh burnout adalah Generasi Z.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Burnout (ilustrasi). Meski tak mudah untuk diatasi, kiat ini patut dicoba untuk menghadapi burnout.
Foto: www.freepik.com.
Burnout (ilustrasi). Meski tak mudah untuk diatasi, kiat ini patut dicoba untuk menghadapi burnout.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Burnout merupakan sebuah fenomena yang cukup umum ditemukan di berbagai belahan dunia. Studi di tujuh negara bahkan menemukan bahwa sekitar 70 persen pekerja mengalami burnout.

Studi yang dilakukan oleh Asana tersebut menemukan bahwa generasi yang paling terdampak oleh burnout adalah Generasi Z dengan persentase 84 persen. Sedangkan burnout pada Millenial dialami oleh 74 persen orang, dan pada Baby Boomers 47 persen, seperti dilansir Forbes.

Baca Juga

Survei berbeda menunjukkan bahwa sekitar 52 persen pekerja mengalami burnout. Angka tersebut mengalami peningkatan 9 poin bila dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19.

"Burnout adalah sindrom yang yang muncul akibat adanya stres kronis di tempat kerja, yang belum berhasil dikelola," ujar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui laman resminya.

 

Cleveland Clinic mengungkapkan bahwa sebagian orang kerap tak merasa bahwa mereka sedang mengalami burnout. Burnout biasanya baru disadari ketika rasa lelah sudah membuncah dan membuat pekerja tak bisa beraktivitas dengan baik.

Pekerja yang mengalami burnout bisa merasakan beragam gejala. Berikut ini adalah sembilan gejala di antaranya, menurut anggota Council on Communications di American Psychiatric Association, dr Jessi Gold, dan National Library of Medicine:

1. Lelah emosional yang bisa terasa menyerupai kelelahan fisik.

2. Tak puas dengan pekerjaan.

3. Penurunan performa di tempat kerja.

4. Merasakan emosi berlebih mengenai tugas pekerjaan.

5. Tak lagi ingin melakukan hal-hal di luar pekerjaan yang sebelumnya disukai.

6. Perubahan pola makan dan tidur.

7. Merasa sedih, marah, dan mudah marah.

8. Memiliki masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe 2.

9. Menyalahgunakan obat atau alkohol.

Sekilas, Cleveland Clinic mengatakan burnout mungkin terlihat seperti depresi. Namun sebenarnya, burnout merupakan sebuah respons terhadap lingkungan pekerjaan.

Ada lima hal yang dapat membantu para pekerja ketika mengalami burnout. Berikut ini adalah kelima cara meredakan burnout tersebut, seperti dilansir USNews.

1. Dapatkan dukungan sejawat

Memiliki rekan sejawat yang bisa dipercaya dapat membuat lingkungan pekerjaan tak terasa sepi. Selain itu, dukungan dari pimpinan juga bisa membantu meringankan burnout yang dirasakan para pekerja. Bila perlu, perusahaan dapat menghadirkan program asistensi yang dapat menyediakan dukungan untuk pekerja.

2. Menemukan keseimbangan

Beberapa tugas dalam pekerjaan mungkin bisa terasa lebih berat dibandingkan tugas lainnya. Terkadang, tugas yang berat ini mungkin terkonsentrasi di satu waktu yang sama. Bila memungkinkan, proporsi tugas-tugas yang terasa berat ini bisa dibagi secara merata dalam kurun waktu tertentu. Seimbangkan pula dengan melakukan tugas yang disukai.

3. Batasan jelas

Buat batasan yang jelas antara jam bekerja dengan waktu untuk pribadi. Hindari kecenderungan menghabiskan seluruh waktu untuk pekerjaan, meski pekerjaan tersebut terasa menyenangkan. Pekerja juga perlu meluangkan waktu untuk diri sendiri dan mengembangkan potensi diri di beragam aspek lain.

"Anda perlu menemukan waktu untuk menyadari bahwa diri Anda yang bekerja bukanlah keseluruhan diri Anda," ujar dr Gold.

4. Temukan coping skill

Ada banyak bentuk coping skill yang dapat membantu pekerja meredakan stres. Beberapa di antaranya adalah melakukan meditasi, berolahraga, serta menulis jurnal. Pilih cara coping yang terasa paling sesuai dan bisa membantu meredakan stres.

5. Minta bantuan

Ada kalanya, pekerja merasa sangat kewalahan dengan burnout yang dihadapi. Dalam kondisi seperti ini, pekerja bisa mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental profesional atau berkonsultasi dengan pelatih karier.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement