Ahad 19 Feb 2023 13:05 WIB

Anak Autis di Depok Diduga Dianiaya, Begini Tips Mencari Tempat Terapi yang Baik

Orang tua harus mengutamakan program yang jelas untuk terapi anak.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Endro Yuwanto
Seorang anak berkebutuhan khusus (autis) mendapat terapi sensory integrasi dari terapis/ilustrasi.
Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Seorang anak berkebutuhan khusus (autis) mendapat terapi sensory integrasi dari terapis/ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Seorang terapis di Kota Depok, Jawa Barat, baru-baru ini ditetapkan menjadi tersangka oleh Polres Metro Depok. Ia diduga lalai dalam tugasnya saat menangani RF (2 tahun), seorang anak dengan autisme hingga meronta kesakitan karena dijepit dengan paha tersangka.

Melihat kasus ini, psikolog dan praktisi terapi perilaku, Ayuna Eprilsanti menjelaskan, orang tua memang harus lebih selektif agar kejadian seperti di Depok tidak terjadi kembali. Orang tua harus mengutamakan program yang jelas untuk terapi anak dengan autism spectrum disorder (ASD), bukan sekadar nama dan fasilitas yang sudah terkenal.

Baca Juga

"Supaya fasilitas itu punya program yang jelas. Yang berisi goalsnya apa, materinya yang dipakai seperti apa, prosedur yang dipakai seperti apa. Supaya orang tua tahu targetnya ke mana," ujar Ayuna, Ahad (19/2/2023).

Penting juga memilih fasilitas yang memudahkan orang tua memantau anak saat diberikan terapi. "Jadi tempat terapi itu jangan dilihat dari nama, tapi dari program tertulis targetnya apa dan ada CCTV supaya orang tua bisa lihat atau kalau tidak ada CCTV, pintunya dibuka atas ada kacanya untuk melihat," kata Ayuna.

Menurut Ayuna, tempat terapi untuk anak dengan ASD saat ini sudah banyak yang memasang CCTV untuk mempermudah orang tua memantau anak. Jikapun tidak ada CCTV, orang tua harusnya dibolehkan memantau proses terapi.

"Ada yang pakai CCTV, banyak juga yang nggak pakai. Tapi kalau misalnya pun nggak pakai, orang tua boleh masuk. Nah, saya banyak dapat pengalaman dari orang tua, yang mengeluh mereka nggak boleh ikut masuk. Kan kalau seperti ini orang tua nggak tahu anaknya diapain. Sementara anaknya nggak bisa cerita," jelas Ayuna.

Sebelumnya, Ayuna menyebut terapi anak dengan kekerasan jelas merupakan tindakan yang salah. Apalagi dalam video yang beredar, tindakan terapis dinilainya membuat anak kesulitan bernapas.

"Dari kacamata sebagai praktisi terapi perilaku, itu salah dan membahayakan. Karena kita pun kalau blocking tidak boleh menyakiti anak. Apalagi sampai menjepit seperti itu," jelas Ayuna.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement