Selasa 14 Feb 2023 05:18 WIB

Sering Lupa? Waspadai Penyakit Ini

Diagnosis dini demensia dapat mencegah kondisi menjadi lebih buruk.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Natalia Endah Hapsari
Demensia merupakan penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir.  (ilustrasi)
Foto: www.pixabay.com
Demensia merupakan penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Demensia merupakan penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Sebagian besar orang sering kali tak menyadari tanda-tanda awal demensia. Gejala itu bisa terus berkembang dan ketika sudah sangat memengaruhi aktivitas dan ingatan, barulah seseorang menyadari ada sesuatu yang salah.

Dilansir dari Times of India, Selasa (14/2/2023), tanda awal demensia terlihat dari perubahan kecil pada ingatan dan kemampuan untuk fokus, seperti lupa di mana barang diletakkan, tidak dapat mengingat apa yang perlu dilakukan, tidak dapat mengingat rutinitas meskipun sering melakukannya.

Baca Juga

Tanda demensia lainnya yang perlu diwaspadai adalah ketidakmampuan menyelesaikan percakapan lantaran Anda kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Perubahan suasana hati juga menjadi indikator lain seseorang mengalami masalah kesehatan mental.

Meskipun komunikasi dan memori adalah dua hal pertama dan pada kenyataannya merupakan indikator terbesar demensia, ada beberapa subtipe dari gejala-gejala ini yang perlu didiskusikan secara mendetail, salah satunya adalah pengulangan. Mengulangi mandi dalam sehari, bisa menjadi indikator demensia lainnya.

 

Selain itu, seseorang juga biasanya merasa sulit mengenali dan menemukan tempat yang sudah dikenali. Orang dengan demensia sering tersesat dalam diskusi dan tidak dapat mengikuti diskusi.

Diagnosis dini demensia dapat mencegah kondisi menjadi lebih buruk. Hal ini dapat membantu keluarga dan teman untuk memahami demensia. Ketika penyakit terdeteksi lebih awal, hal ini membuat pasien sadar akan kondisinya sehingga ia dapat secara aktif berpartisipasi dalam proses pemulihan dan memberikan pasien kesempatan untuk memahami situasi dan mengapa penting untuk diobati. Ketika pasien memahami kondisinya, maka akan lebih mudah untuk pulih.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan, kasus demensia pada usia muda, yaitu timbulnya demensia pada orang yang berusia kurang dari 65 tahun, menyumbang 9 persen dari total kasus demensia. Adapun faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia adalah isolasi sosial, ketidakaktifan kognitif, dan depresi.

"Studi menunjukkan, orang dapat mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia dengan menjadi aktif secara fisik, tidak merokok, menghindari penggunaan alkohol yang berbahaya, mengendalikan berat badan, makan makanan sehat, dan menjaga tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula darah yang sehat," demikian menurut laporan WHO.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement