Senin 13 Feb 2023 16:46 WIB

Campur Tangan Disney Dinilai Rusak Potensi Kreatif Adaptasi Komik Marvel

Apakah penonton merasa deretan film dan serial Marvel begitu rumit akhir-akhir ini?

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Qommarria Rostanti
Salah satu adegan dalam film Avengers garapan Marvel Studios. Campur tangan Disney dinilai dapat merusak potensi kreatif adaptasi komik Marvel ke film. (ilustrasi)
Foto: Disney/Marvel
Salah satu adegan dalam film Avengers garapan Marvel Studios. Campur tangan Disney dinilai dapat merusak potensi kreatif adaptasi komik Marvel ke film. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- The Walt Disney Company mengakuisisi Marvel Studios pada 2009. Itu berarti, berbagai tayangan Marvel Cinematic Universe (MCU) mendapat "filter" ala Disney. Menurut sejumlah pihak, ini berpotensi merusak potensi kreatif adaptasi komik Marvel ke film.

Meski sejumlah sinema besutan Marvel menduduki puncak box office dan banyak yang berlangganan Disney+, sebagian orang mulai lelah dengan deretan film pahlawan super itu. Terus mengikuti film-film MCU terasa seperti mengerjakan tugas, tak sepenuhnya menikmati.

Baca Juga

Presiden produksi Marvel Studios, Kevin Feige, menyatakan dirinya memiliki "obat penawar" untuk penggemar yang lelah. Tetap saja, ada perasaan deretan film dan serial Marvel terasa begitu rumit akhir-akhir ini, yang bisa jadi akibat "Disneyfication".

Berikut sejumlah dampak akibat campur tangan Disney tersebut:

 

1. Terlalu "bersih"

Film Marvel yang dibuat di bawah pengawasan Disney dianggap sebagian pihak terlalu "bersih" dan kurang fleksibel. Berbeda dengan film-film DC yang tidak takut menjadi sedikit nyeleneh atau berantakan untuk mengadaptasi kisah dari buku komik.

Semua film setelah Iron Man yang mendapat filter dari Disney adalah kombinasi antara realisme yang membumi dan kesenangan buku komik. Dengan pendekatan itu, sangat sedikit film MCU yang terkesan unik dan mengusung gaya khas sutradara.

2. Objektifikasi pahlawan

Ada beberapa momen dalam deretan film MCU yang membuat tubuh pahlawan super dijadikan objek. Penggemar mungkin ingat adegan Steve Rogers, alias Kapten Amerika (Chris Evans) di Captain America: The First Avengers setelah disuntikkan serum khusus.

Ada juga momen ketika Star-Lord/Peter Quill (Chris Pratt) bertelanjang dada di Guardians of the Galaxy Vol 1. Begitu pula saat Thor (Chris Hemsworth) terus-menerus memamerkan ototnya. Dimensi dan kompleksitas karakter dewasanya juga dinilai kurang.

3. Terlalu banyak tokoh yang jadi "gong"

Pada Avengers (2012), hadir deretan pahlawan super yang hebat. Namun, itu memunculkan tim berikutnya yang semakin kuat, termasuk Spider-Man (Tom Holland), Black Panther (Chadwick Boseman), dan deretan karakter lain yang terus bertambah.

Tim yang luar biasa itu lalu bersatu melawan Thanos dan Infinity Stones. Lalu, apa lagi yang bisa mengunggulinya? Multiverse, tentu saja. Eksplorasi multiverse telah menghasilkan kisah dan visualisasi mengagumkan. Namun, semuanya jadi terus memuncak tanpa kendali.

4. Visual terkesan sama

Estetika yang berulang dan terlalu banyak film yang digarap menghilangkan rasa autentik dan orisinalitas. Pada sejumlah film, penonton mungkin menyadari gaya CGI yang terlalu sering diterapkan di MCU atau beberapa aspek visual yang terasa mirip.

Beberapa tahun terakhir, muncul kritik dari sebagian orang bahwa Marvel memiliki terlalu sedikit inovasi estetika. Itu jadi salah satu alasan penggemar jenuh. Memiliki gaya visual yang konsisten itu penting untuk branding, tetapi di sisi lain juga bisa sangat membatasi.

5. Nostalgia berlebihan

Bagi studio, semua film adalah produk. Butuh seni yang tepat untuk menjualnya. Disney dengan cepat mempelajari nilai nostalgia, serupa dengan formulasi yang diterapkan untuk sejumlah film animasinya yang disulap jadi sinema live-action.

Untuk MCU, Disney pun tidak segan-segan menambang setiap aliran nostalgia untuk menghasilkan lebih banyak konten. Itu semua bisa menyenangkan dan menghibur, tetapi jika dilakukan begitu sering, akan terasa hampa, dikutip dari laman Game Rant, Senin (13/2/2023).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement