Rabu 01 Feb 2023 09:45 WIB

Cegah Penculikan Anak, Ini yang Harus Dilakukan Ayah dan Ibu

Tidak semua kabar penculikan anak adalah hoaks alias berita bohong.

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda
Anak bermain di kawasan Tempat Pemakaman Umum di Jakarta, Senin (30/1/2023). Berdasarkan Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) mencatat sepanjang tahun 2022 terdapat 28 kasus laporan penculikan anak sehingga pemerintah mengimbau orang tua untuk mengawasi anak saat beraktivitas diluar ruangan, serta mengajak Aparat Penegak Hukum untuk memastikan upaya terhadap perlindungan anak.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Anak bermain di kawasan Tempat Pemakaman Umum di Jakarta, Senin (30/1/2023). Berdasarkan Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) mencatat sepanjang tahun 2022 terdapat 28 kasus laporan penculikan anak sehingga pemerintah mengimbau orang tua untuk mengawasi anak saat beraktivitas diluar ruangan, serta mengajak Aparat Penegak Hukum untuk memastikan upaya terhadap perlindungan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Parenting coach sekaligus psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Irma Gustiana mengingatkan pentingnya meningkatkan pengawasan orang tua untuk mencegah penculikan anak. Ia menyebut, keamanan dan keselamatan anak merupakan tanggung jawab ayah dan ibu.

"Yang pasti, pengawasan itu penting. Orang tua harus bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan anak," kata Irma saat dihubungi Antara, Rabu (1/2/2023).

Baca Juga

Irma mengatakan, lemahnya pengawasan orang tua dapat menjadi salah satu faktor yang memudahkan penculik untuk melakukan kejahatan tersebut. Apalagi, anak merupakan kelompok paling rentan yang belum bisa melindungi dirinya sendiri.

"Ketika anak tidak dalam pengawasan orang tua, maka akan memudahkan bagi para penculik itu untuk melakukan aksinya," kata Irma.

 

Selain memberikan pengawasan, Irma mengatakan orang tua juga perlu mengajarkan anak mengenai cara memberikan respons terhadap orang-orang asing yang ada di sekitar mereka. Ajarkan cara menolak ajakan orang lain yang tidak dikenal.

Pastikan juga anak mampu menyampaikan isi pikirannya. Hal itu, menurut Irma, dapat dilatih salah satunya dengan bermain roleplay.

"Jadi ketika ada sesuatu yang terjadi, anak mampu menyampaikan kecemasan atau ketakutannya, misalnya ketika di keramaian ada yang bertingkah laku aneh atau mencurigakan," ujar Irma.

Di samping itu, Irma juga mengingatkan agar orang tua menasihati anaknya agar tidak berada di tempat yang sepi. Biasakan anak berkumpul dengan teman-temannya atau mencari orang dewasa yang dikenal.

Irma juga mengatakan penting bagi orang tua untuk mengenal tetangga di sekitar rumah. Sebab, menurutnya. kasus penculikan juga sangat mungkin terjadi di daerah perumahan. Pastikan juga anak tidak menggunakan aksesori berlebihan yang mampu mengundang penculik.

"Misalnya perhiasan berlebihan atau menggunakan smartphone dengan teknologi canggih dan harga yang mahal. Itu bisa menjadi incaran penculik untuk memanfaatkan kelemahan si anak," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement