Ahad 29 Jan 2023 03:05 WIB

EG dan DEG Ancam Kesehatan Anak, PDUI Minta Orang Tua Bijak Pilih Kemasan Pangan

PDUI menyebut EG dan DEG ternyata menjadi bahan yang digunakan kemasan sekali pakai

Air minum dalam berbagai kemasan, ilustrasi. Untuk menghindari bahaya kesehatan keracunan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang telah menewaskan lebih dari ratusan anak di Indonesia, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) meminta masyarakat agar lebih bijak memilih kemasan pangan yang aman.
Air minum dalam berbagai kemasan, ilustrasi. Untuk menghindari bahaya kesehatan keracunan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang telah menewaskan lebih dari ratusan anak di Indonesia, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) meminta masyarakat agar lebih bijak memilih kemasan pangan yang aman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Untuk menghindari bahaya kesehatan keracunan etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang telah menewaskan lebih dari ratusan anak di Indonesia, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) meminta masyarakat agar lebih bijak memilih kemasan pangan yang aman. 

Hal itu disebabkan zat-zat kimia ini ternyata tidak hanya digunakan sebagai pelarut dalam sirup obat batuk saja tapi juga ada dalam kemasan pangan plastik sekali pakai seperti air minum dalam kemasan botol dan galon sekali pakai.

“EG dan DEG ini harusnya bahan kimia yang ada di industri sebagai antibeku dan lain-lain, tapi ternyata ada juga di kemasan segala macam. Yang jelas, zat-zat ini bisa membahayakan kesehatan anak-anak di Indonesia,” ujar Pengurus PDUI, Dr. Catherine Tjahjadi. 

Menurutnya,  EG dan DEG yang ada dalam kemasan pangan itu bisa saja terlepas ke dalam produknya. Apalagi banyak para pedagang yang menjual kemasan-kemasan ini dengan meletakkannya di panas matahari alias dijemur. 

 

Bukan hanya itu, kemasan pangan sekali pakai yang mengandung EG dan DEG seperti botol-botol dan galon minum sekali pakai ini diisi ulang berkali-kali oleh sebagian masyarakat. “Nah, perlakuan-perlakuan yang tidak benar seperti inilah yang bisa membuat EG dan DEG itu terlepas dari kemasannya ke produknya,” tukasnya. 

Karenanya, sebagai Pengurus PDUI, dia meminta masyarakat perlu untuk memilih dengan bijak kemasan-kemasan pangan  yang aman untuk kesehatan.  “Masyarakat harus jeli dan meningkatkan awareness atau kesadaran, yang dimulai dari keluarga dulu untuk lebih aware dengan kemasan-kemasan yang mengandung bahan kimia ini,” ucapnya.  

Dia menjelaskan bahwa EG dan DEG ini merupakan zat yang tidak berwarna dan tidak berbau tapi rasanya manis. “Nah, rasa manis dari EG dan DEG inilah yang kemungkinan membuat orang suka nggak tahu bahwa itu adalah zat kimia sehingga senang untuk mengonsumsinya.  Padahal, jika sering diminum, zat-zat ini akan menumpuk di dalam tubuh dan bisa mengganggu kesehatan,” tuturnya. 

Kenapa EG dan DEG ini bisa membahayakan kesehatan anak-anak, menurut Catherine, hal itu disebabkan zat-zat kimia ini sangat mengganggu keseimbangan asam dan basa di dalam tubuh.  

Dia mengutarakan ketika EG dan DEG tertelan ke dalam tubuh, zat ini akan membentuk senyawa yang disebut glycolic acid atau asam glikolat. Nah, asam inilah yang  menurutnya bisa mengganggu keseimbangan asam basa dalam tubuh si anak, sehingga menyebabkan kondisi yang disebut asidosis metabolik atau ketidakseimbangan asam basa di dalam tubuh. 

Karena terjadi asidosis metabolik ini, lanjutnya, asam glikolat yang terbentuk saat EG dan DEG tertelan juga diubah menjadi oksalat. “Oksalat ini kemudian berikatan dengan kalsium membentuk kalsium oksalat. Nah, inilah yang kalau jumlahnya banyak dan menumpuk bisa bikin gangguan dari organ tubuh di otak, paru-paru, ginjal, dan sebagainya,” katanya.  

Jadi, katanya, EG dan DEG itu tidak hanya menyebabkan gangguan ginjal saja, tapi juga syaraf dan paru-paru. Untuk gangguan syaraf, menurutnya, keracunan EG dan DEG ini sama dengan keracunan etanol yang gejala-gejalanya adalah mengantuk, linglung, gelisah, bicara melantur, dan disorientasi seperti orang mabuk.  

Keracunan EG dan DEG ini juga memiliki gejala mudah capek saat berlari, nafas terengah-engah dan pendek, serta sesak nafas.  Selain itu juga terjadi perubahan tekanan darah, bisa tinggi atau malah bisa rendah,  dan denyut jantungnya menjadi sangat cepat tidak beraturan. 

Kalau untuk gangguan ginjalnya, gejalanya adalah mual, muntah, kencingnya berkurang dan tidak bisa buang air kecil. “Nah, kenapa yang lebih disorot itu ke gangguan ginjalnya, karena gejalanya  yang ke ginjal itu lebih spesifik,  jadi mungkin itu yang  lebih mudah terlihat sama dokter,” tuturnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement