Senin 23 Jan 2023 18:25 WIB

Desa Samustida Targetkan Jadi Sentra Kopi di Kabupaten Sambas

Semangat yang ada dirangkul melalui wadah kelompok petani kopi.

Seorang barista kedai kopi Liber.Co membuat racikan minuman kopi di Mini Industri Kampus Politeknik Negeri Sambas di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Rabu (7/4/2021) (ilustrasi). Petani di Desa Samustida, Kecamatan Teluk Keramat, menargetkan wilayahnya menjadi sentra kopi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Foto: JESSICA HELENA WUYSANG/ANTARA
Seorang barista kedai kopi Liber.Co membuat racikan minuman kopi di Mini Industri Kampus Politeknik Negeri Sambas di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Rabu (7/4/2021) (ilustrasi). Petani di Desa Samustida, Kecamatan Teluk Keramat, menargetkan wilayahnya menjadi sentra kopi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Petani di Desa Samustida, Kecamatan Teluk Keramat, menargetkan wilayahnya menjadi sentra kopi di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Petani kopi dari Desa Samustida Kamarudin bersyukur, dengan semangat belale (gotong royong) antarwarga dan kompak hingga kini, perjuangan merintis sejak 2020 lalu kini mulai menampakkan hasil. Kopi yang kami tanam sebagian besar mulai berbuah.

Baca Juga

"Mimpi kami ingin mewujudkan sentra kopi di Kabupaten Sambas mulai di depan mata," ujar Kamarudin di Sambas, Senin (23/1/2023).

Ia menjelaskan, semangat yang ada dirangkul melalui wadah kelompok petani kopi yang saat ini terdiri 19 orang. Setiap Sabtu, kelompok tersebut menggarap lahan dan menanam atau merawat kopi secara bersama-sama.

 

"Setiap Sabtu, kami berkumpul dan menggarap lahan dan merawat kebun yang ada bersama-sama. Kebun yang dibangun ini memang secara kelompok," kata Kamarudin.

Menurutnya, saat ini sudah ada hamparan kopi jenis liberika seluas 20 hektare. Kebun kopi yang ada saat ini sebagian mulai berbuah. Hal itu menambah semangat petani untuk terus merawat dan mengusahakan kopi di Sambas.

"Bersyukur kopi kami berbuah sesuai harapan di mana tampak buahnya lebat. Kebun kopi kami ini ada yang bernaung atau tumpang sari dengan tanaman lainnya yakni petai. Kemudian, ada juga yang tanpa naungan," jelas dia.

Ia menceritakan adanya hamparan kopi seluas 20 hektare saat ini seakan menjadi mimpi dan rasa mustahil diwujudkan. Namun karena semangat belale, rasa kekeluargaan, dan kekompakan dari anggota kelompok mulai anak muda dan mayoritas sudah paruh baya, rasa mustahil bisa ditepis. Alhasil, semangat berkebun dan harus jadi kini berbuah nyata.

Sebelumnya, di daerah tersebut sebagian besar masyarakatnya menanam kopi sebagai sumber pendapatan dan memenuhi kebutuhan masing-masing. Namun seiring waktu, mulai hilang karena ada pergeseran komoditas tanaman yang ditanam. Sejarah pernah jaya akan kopi di daerah tersebut kini mulai dibangkitkan kembali.

"Kami akan terus mengembangkan kopi kami di sini. Kami akan mewujudkan menjadi sentra kopi," kata Kamarudin.

Saat ini, petani sudah juga fokus menggarap sektor hilirnya yakni menjual kopi bubuk dengan merek kopi Tumbok. Kopi bubuk kemasan yang dibuat dalam rangka meningkatkan nilai tambah petani.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement