Selasa 17 Jan 2023 13:11 WIB

Senyum Asimetris? Hati-Hati Gejala Awal Strok, Segera Cari Bantuan

Ketika serangan strok terjadi, salah satu sisi wajah pasien sulit digerakkan.

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti
Tak bisa senyum menjadi salah satu ciri gejala strok. (ilustrasi)
Foto: Safebee
Tak bisa senyum menjadi salah satu ciri gejala strok. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Strok merupakan kondisi darurat yang memerlukan penanganan medis segera. Salah satu kunci penting mendeteksi strok lebih cepat adalah dengan mengenali gejala-gejalanya.

"Bila diberikan dengan cepat, (penanganan medis) akan sangat efektif dalam meringankan dampak (dari strok)," ujar pendiri The Live In Care Company, Luca Rado, seperti dilansir Express, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga

Serangan strok terjadi ketika aliran darah tidak mencapai suatu bagian otak. Kondisi ini bisa disebabkan adanya gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah di otak atau adanya pembuluh darah otak yang pecah.

"Kondisi ini bisa terjadi dengan tingkat keparahan berbeda dan oleh karenanya kerusakan akibat strok berbeda pada setiap kasus," kata Rado.

 

Seseorang yang terkena strok bisa menunjukkan beberapa tanda atau gejala. Salah satu di antaranya ketidakmampuan untuk tersenyum. Ketika serangan strok terjadi, salah satu sisi wajah pasien akan terlihat lebih turun dan sulit digerakkan.

Gejala kedua, tidak mampu mengangkat salah satu atau kedua tangan dan menjaganya tetap terangkat. Gejala yang ketiga adalah kesulitan untuk bicara.

"Yang bisa membuat mereka (pasien strok) menjadi pelo dan mereka juga mungkin tak bisa memahami kalimat yang Anda katakan kepada mereka," ujar Rado.

"Bila Anda melihat perubahan yang tiba-tiba pada perilaku atau kemampuan untuk melakukan aktivitas rutin, coba lihat tiga tanda ini untuk menentukan apakah (perubahan) tersebut disebabkan oleh strok," kata Rado.

Bila menemukan gejala strok pada diri sendiri atau orang lain, segera cari bantuan. Semakin cepat pasien strok mendapatkan penanganan medis, akan semakin baik.

Pasien strok yang berhasil diselamatkan biasanya akan memerlukan rehabilitasi untuk melatih kembali fungsi-fungsi tubuh mereka. Rehabilitasi yang diberikan akan bergantung pada dampak yang disebabkan strok pada tubuh pasien.

"Biasanya melibatkan fisioterapi, terapi okupasi, terapi bicara dan bahasa, masukan psikologis, dan juga dokter serta perawat spesialis," ujar Rado.

Strok terdiri dari atas  dua jenis utama yakni strok iskemik dan strok hemoragik. Strok iskemik merupakan serangan strok yang terjadi akibat adanya gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah otak. Sedangkan strok hemoragik merupakan strok yang terjadi akibat pecahnya pembuluh darah otak.

Secara umum, ada beragam faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terserang strok. Sebagian di antaranya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi, kolesterol tinggi, fibrilasi atrium, dan diabetes.

National Health Service merekomendasikan beberapa upaya pencegahan strok yang dapat diterapkan dalam keseharian. Beberapa dari upaya pencegahan tersebut adalah menerapkan pola makan yang sehat, olahraga teratur, serta menghindari kebiasaan merokok atau minum alkohol.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement