Selasa 20 Dec 2022 14:40 WIB

Booster dan Perawatan Antibodi tak Lagi Manjur untuk Subvarian Omicron BQ dan XBB

Dua varian Omicron tersebut dianggap paling pintar menghindari imunitas tubuh.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Subvarian omicron yang menjadi dominan dalam beberapa bulan terakhir menjadi ancaman serius terhadap keefektifan booster serta perawatan antibodi.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Subvarian omicron yang menjadi dominan dalam beberapa bulan terakhir menjadi ancaman serius terhadap keefektifan booster serta perawatan antibodi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Subvarian omicron yang menjadi dominan dalam beberapa bulan terakhir menjadi ancaman serius terhadap keefektifan booster serta perawatan antibodi. Kedua perawatan itu dinilai tak lagi manjur menghadapi subvarian baru, yang pada akhirnya bisa memicu lonjakan infeksi terobosan. Hal ini merujuk pada studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Cell dari Columbia University dan University of Michigan.

Subvarian omicron BQ.1, BQ.1.1, XBB, dan XBB.1 merupakan varian Covid-19 yang paling mudah menghindar dari imunitas tubuh hingga saat ini. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mencatat, varian ini, jika digabungkan, saat ini menyebabkan 72 persen infeksi baru di AS.

Baca Juga

Para ilmuwan menemukan bahwa subvarian ini hampir tidak rentan terhadap netralisasi oleh vaksin, termasuk booster omicron baru. Respons kekebalan orang yang divaksinasi dan mengalami infeksi terobosan dengan varian omicron sebelumnya juga lebih lemah terhadap subvarian.

“Temuan kami menunjukkan bahwa subvarian BQ dan XBB menghadirkan ancaman serius terhadap vaksin COVID-19 saat ini, membuat semua antibodi tidak aktif, dan mungkin telah mendapatkan dominasi dalam populasi karena keunggulan mereka dalam menghindari antibodi,” kata para ilmuwan seperti dilansir dari CNBC, Selasa (20/12/2022).

 

Meskipun subvarian ini lebih cenderung menyebabkan infeksi terobosan, vaksin telah terbukti tetap efektif dalam mencegah rawat inap dan penyakit parah akibat omicron.

Studi tersebut memeriksa sampel darah dari orang yang menerima tiga atau empat vaksin asli, mereka yang menerima booster omicron setelah tiga suntikan vaksin asli, dan individu yang divaksin dengan vaksin asli yang juga mengalami infeksi terobosan dari BA.2 atau subvarian BA.5.

Bagi orang yang menerima booster omicron, antibodi yang memblokir infeksi 24 kali lebih rendah terhadap BQ.1, 41 kali lebih rendah terhadap BQ.1.1, 66 kali lebih rendah terhadap XBB, dan 85 kali lebih rendah terhadap XBB.1 dibandingkan dengan kinerja mereka melawan strain asli yang muncul di Wuhan, Cina, pada tahun 2019.

Namun, orang yang menerima booster omicron memiliki tingkat antibodi yang sedikit lebih tinggi terhadap semua subvarian ini dibandingkan dengan orang yang menerima tiga atau empat suntikan vaksin asli.

Orang yang divaksinasi dan mengalami infeksi terobosan memiliki tingkat antibodi tertinggi dari kelompok mana pun dalam penelitian ini, meskipun netralisasi juga jauh lebih rendah terhadap subvarian daripada strain leluhur atau SARS-CoV-2.

Subvarian telah berevolusi dari versi omicron sebelumnya secara dramatis. BQ.1.1 misalnya, kira-kira sama berbedanya dengan omicron BA.5 karena subvarian terakhir berasal dari strain Covid leluhur, menurut penelitian tersebut.

“Oleh karena itu, sangat mengkhawatirkan bahwa subvarian yang baru muncul ini dapat semakin membahayakan kemanjuran vaksin COVID-19 saat ini dan mengakibatkan lonjakan infeksi terobosan, serta infeksi ulang,” tulis para ilmuwan.

XBB.1, bagaimanapun, menghadirkan tantangan terbesar. Ini sekitar 49 kali lebih tahan terhadap netralisasi antibodi daripada subvarian BA.5. Untungnya, XBB.1 saat ini menyebabkan tidak lebih dari 1% infeksi di AS, menurut data CDC.

BQ.1.1 dan BQ.1 masing-masing mewakili 37 persen dan 31 persen infeksi baru, sementara XBB menyebabkan 4,7 persen infeksi baru, menurut data CDC.

Menurut studi, obat antibodi utama seperti Evushheld dan bebtelovimab juga dianggap sama sekali tidak aktif terhadap subvarian baru. Antibodi ini digunakan terutama oleh orang dengan sistem kekebalan yang lemah.

Evusheld adalah koktail antibodi yang digunakan untuk mencegah Covid pada orang dengan sistem kekebalan lemah yang tidak merespons vaksin dengan kuat. Bebtelovimab digunakan untuk mencegah Covid berkembang menjadi penyakit parah pada pasien transplantasi organ dan individu lain yang tidak dapat menjalani perawatan lain.

“Ini menimbulkan masalah serius bagi jutaan individu dengan gangguan kekebalan yang tidak menanggapi vaksin COVID-19. Kebutuhan mendesak untuk mengembangkan antibodi monoklonal aktif untuk penggunaan klinis sudah sangat jelas,” kata dia.

Food and Drug Administration (FDA) telah menarik otorisasi bebtelovimab secara nasional karena dinilai tidak lagi efektif melawan varian omicron yang dominan di AS. Evusheld tetap diizinkan sebagai satu-satunya pilihan untuk profilaksis pra-paparan.

Kepala penasihat medis Gedung Putih Dr Anthony Fauci, dalam jumpa pers bulan lalu, mengatakan pejabat kesehatan AS berharap ada cukup kekebalan pada populasi dari vaksinasi, infeksi, atau keduanya untuk mencegah lonjakan besar dari infeksi dan rawat inap seperti musim dingin lalu ketika omicron pertama kali tiba.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement