Ahad 18 Dec 2022 13:40 WIB

Pentas Solidaritas AUM Putu Wijaya untuk Pengabdi Seni

Putu Wijaya dan Teater Mandiri mementaskan AUM

Rep: Santi Sopia/ Red: Priyantono oemar
Putu Wijaya memegang karya bukunya saat ia mementaskan naskah teaternya yang berjudul AH,  di Makara Art Center, Kampus Universitas Indonesia, Depok. Jawa Barat, Sabtu (23/10/2021). Putu Wijaya dan rekannya merayakan HUT Teater Mandiri yang ke 50.
Foto: ANTARA /Dodo Karundeng
Putu Wijaya memegang karya bukunya saat ia mementaskan naskah teaternya yang berjudul AH, di Makara Art Center, Kampus Universitas Indonesia, Depok. Jawa Barat, Sabtu (23/10/2021). Putu Wijaya dan rekannya merayakan HUT Teater Mandiri yang ke 50.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Solidaritas, kepedulian maupun empati pada pengabdi senior teater Indonesia, maupun seni modern, seyogyanya disosialisasikan. Tidak sedikit pelaku seni yang kerap menghadapi kendala dalam berkarya.

Berangkat dari situ, Teater Mandiri, menggelar kembali lakon AUM yang pernah dimainkan dalam Festival BALIJANI IV di Art Center, Denpasar, Bali, pada 22 Oktober lalu. Pentas ini juga untuk mencoba menggalang dana dengan pertunjukan tak berbayar.

 

Sastrawan Putu Wijaya mengatakan solidaritas Itu dianggap pasokan "dana" yang diperlukan oleh batin para pekerja senior teater modern Indonesia yang sedang dalam perawatan, agar dapat terus bekerja kembali dengan semangat tinggi. Bahwa pengertian dana diartikan dengan arti klasiknya sebagai sumbangan uang, itu serahkan saja pada bersangkutan.

 

“Kalau itu terjadi akan kami serahkan pada yang berhak menerima atau keluarganya dengan paling sedikit Ketua Komite Teater DKJ sebagai saksinya,” demikian dalam keterangan Putu, dikutip Ahad (18/12/2022).

 

Ketika Remy Sylado yang dipandang sebagai salah seorang pengabdi senior teater yang memerlukan solidaritas, meninggal, lalu Ikra Nagara, belum ditemukan di mana kini dirawat, seluruh pendukung AUM tetap bertekad untuk menuntaskan pentas solidaritas 5 Januari 2023. Pementasan solidaritas ini bukan upaya untuk membelokkan Teater Mandiri menjadi komoditas pekerja sosial. 

 

“Kami tetap fokus sebagai pekerja teater saja, yang kerap menggarap masaalah-masaalah sosial,” kata sastrawan berusia 78 tahun tersebut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement