Jumat 22 Apr 2022 00:29 WIB

Sempat Tolak Banyak Penulis, Zulhas Percayakan Kisah Hidupnya Ditulis Dua Putrinya

Buku Rantau diharapkan mengingatkan semua orang bisa sukses asal yakin

Peluncuran novel Rantau, karya Futri Zulya dan Zita Anjani, yang mengisahkan perjuangan ayah mereka Zulkifli Hasan saat merantau dari Lampung Selatan ke Jakarta.
Foto: Dok Pribadi
Peluncuran novel Rantau, karya Futri Zulya dan Zita Anjani, yang mengisahkan perjuangan ayah mereka Zulkifli Hasan saat merantau dari Lampung Selatan ke Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senyum merekah di wajah Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan, saat peluncuran buku bertajuk Rantau karya dua putrinya Futri Zulya dan Zita Anjani, pada Kamis (21/4/2022). Selama ini ia menolak banyak penulis yang ingin menuangkan kisah hidupnya dalam buku. Tapi ia tak bisa menolak saat kedua putrinya mengajukan diri untuk menulis kisah perjuangannya.

"Banyak penulis mau nulis cerita saya, tapi saya nggak mau. Menurut saya banyak yang lebih hebat kisahnya untuk ditulis. Nah, ini (buku Rantau), anak-anak yang nulis jadi saya nggak bisa nolak," ujarnya.

Pria yang juga kerap disapa Zulhas ini, memang senang menceritakan kisah hidupnya di masa kecil hingga bisa seperti saat ini kepada anak-anaknya. Tujuannya tak lain agar buah hatinya tahu, bahwa untuk mencapai sesuatu harus dengan kerja keras dan doa.

Maka dengan buku ini juga diharapkan dapat mengingatkan, bahwa semua orang bisa mencapai kesuksesan asalkan ia percaya dirinya bisa melakukannya. "Semua orang bisa (sukses), jangan sampai ada yang bilang nggak bisa. Sukses itu bagi orang yang percaya tuhan. Ia akan percaya pada takdir tuhan," kata Zulkifli.

Ia berharap pembaca dapat memetik nilai positif dalam buku. Bahwa seperti yang ia percaya selama ini, di setiap kesulitan pasti akan selalu ada keluangan atau kemudahan. Itulah yang terus diingat Zulkifli remaja saat merantau hingga sukses seperti saat ini.

Futri mengatakan sengaja menuliskan kisah hidup ayahnya dengan apa adanya. Bahkan mereka melakukan crosscheck cerita yang didapat dari sang ayah ke sejumlah saksi di lingkungan tempat ayahnya tinggal dahulu di Lampung Selatan.

"Kita ke sana tanya orang-orang dan tetangga disana benar nggak cerita Papih. Kita coba se-raw (apa adanya) mungkin dalam menuliskan kisah di buku ini," ujarnya.

Makanya buku Rantau tak melulu berisi keberhasilan Zulkifli Hasan. Tapi disana terdapat cerita bagaimana perjuangan Zulkifli kecil, Zulkifli remaja yang merantau ke ibu kota, hingga kisah-kisah percintaannya.

Zita menambahkan, ia berharap pembaca terinspirasi dari kisah sang ayah. Awalnya juga ia sempat tak percaya saat diceritakan bagaimana susahnya ayahnya hidup saat kecil.

"Aku tuh sampe yang, ah masa iya, makan telor dibelah delapan. Masa iya anak kecil harus jalan berkilometer untuk ke sekolah. Ketemu buaya di jalan. Tapi pas aku tanya ke orang-orang di sana (Lampung) yang kenal Papih, ternyata benar," ujarnya.

Lagi-lagi Zita berharap nilai perjuangan ayahnya dapat menjadi pelajaran. Zita selalu terngiang kata-kata ayahnya, bahwa semua yang dilakukan dalam hidup tak ada yang sia-sia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement