Senin 21 Feb 2022 13:11 WIB

Dokter: Anak di Bawah 5 Tahun Wajar Batuk Pilek Setahun Empat Kali

Anak mengalami batuk dan pilek setiap tiga bulan masih dalam atas wajar.

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah
Anak mengalami batuk dan pilek setiap tiga bulan masih dalam atas wajar.
Foto: www.freepik.com.
Anak mengalami batuk dan pilek setiap tiga bulan masih dalam atas wajar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Batuk dan pilek menjadi salah satu masalah yang sering dialami anak, terutama pada musim pancaroba seperti ini. Namun ditengah pandemi, hal ini menjadi mengkhawatirkan karena gejalanya mirip dengan gejala Covid-19.

Seberapa sering anak mengalami batuk dan pilek? Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), anak memang paling sering mengalami batuk pilek bahkan jauh sebelum pandemi Covid 19 berlangsung.

Baca Juga

Menurutnya, anak usia dibawah lima tahun, dalam setahun masih wajar atau normal, bila terkena ISPA empat sampai delapan episode dalam setahun. Misalnya, setiap tiga bulan anak mengalami ISPA, itu masih batas wajar. 

 

 

"Kalau keluhannya tiap bulan atau tiap pekan itu perlu di evaluasi," tambahnya.

Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), anak memang paling sering mengalami batuk pilek bahkan jauh sebelum pandemi Covid 19 berlangsung.

 

Anggota Satgas Covid 19 dan Unit Kelompok Kerja (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandai SpA(K), anak memang paling sering mengalami batuk pilek bahkan jauh sebelum pandemi Covid 19 berlangsung.

"Sebelum era pandemi, sebelum kehebohan pandemi, batuk dan pilek merupakan keluhan yang paling sering dialami pada anak. Sebenarnya bukan saja pada anak, orang dewasa juga. Tapi terutama pada anak," ungkapnya dalam Tanya IDAI di Instagram Live, 'Batuk dan Pilek pada Anak, Apakah Pasti Covid 19?', belum lama ini.

Ia menjelaskan, pada masa awal kehidupan, banyak sekali infeksi yang menyerang saluran pernafasan anak. Sebelum pandemi, anak rentan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Gejalanya sangat luas, jika menyerang saluran napas bagian atas, gejalanya demam, batuk dan pilek. Jika menyerang saluran napas bawah, gejalanya itu meluas ke paru-paru sampai terjadi radang paru akut atau pneumonia. Gejalanya bisa sampai sesak napas.

"Gejala batuk dan pilek itu pada hakekatnya merupakan suatu tanda atau gejala adanya suatu rangsangan pada saluran napas adanya infeksi, iritasi sehingga bentuk pertahanan disaluran napasnya dalam bentuk batuk atau pilek. Satu lagi kalau dihidung bersin kadang-kadang," paparnya.

 

Ketika pandemi dan dilakukan antisipasi dengan lockdown, masyarakat wajib mematuhi protokol kesehatan. Menurutnya hal ini tidak hanya mencegah Covid-19, tapi juga ISPA atau kejadian yang menimpa anak sebelum pandemi cukup banyak itu turun.

"Artinya tidak ada penularan di sekolah, daycare atau tempat umum. Angkanya menurun signifikan ketika lockdown," ungkapnya.

 

Faktor risiko

Dokter Nastiti menjelaskan ada beberapa faktor risiko anak lebih sering mengalami ISPA dibanding anak lain.

Pertama, daya tahan tubuh atau imunitas anak. Ketika imun rendah dan ada penyakit yang mendasari ditambah masalah status gizi atau nutrisi kurang baik, maka anak akan rentan mengalami ISPA.

Faktor risiko lain adalah anak yang kurang beruntung yang memiliki penyakit jantung bawaan, ginjal, atau keganasan seperti leukimia, maka sistem imunnya sedikit lebih jelek dibanding anak normal lainnya. Hal tersebut, membuat risiko makin tinggi terkena ISPA berulang. Demikian juga dengan kondisi lain yang mempengaruhi. ISPA bisa menjadi berat.

Sebenarnya, menurut dokter Nastiti, semua itu sudah ada pencegahan masuknya virus, yaitu dengan imunisasi. Kalau imunisasi lengkap, maka akan lebih sedikit risiko kena. Bagi yang tidak pernah imunisasi, maka risiko makin tinggi.

Faktor Risiko lainnya adalah pajanan polusi dalam rumah yaitu asap rokok. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang tinggal dengan perokok (meski tidak merokok didepan anak), empat kali lebih tinggi frekeuensinya dirawat di rumah sakit karena masalah pernafasan. Ini jika dibandingkan dengan mereka tinggal dengan orang yang tidak merokok.

"Meski tidak merokok depan anak, tapi anak menghirup partikel dari baju, sofa, dinding atau meja. Anak rentan terkena ISPA," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement