Jumat 11 Feb 2022 06:05 WIB

Baru Kena Covid-19, Boleh Langsung Suntik Booster?

Kapan tepatnya suntikan booster boleh diberikan setelah infeksi?

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah
Kapan tepatnya suntikan booster boleh diberikan setelah infeksi?
Foto: Pxhere
Kapan tepatnya suntikan booster boleh diberikan setelah infeksi?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada akhir April, lebih dari separuh orang di Bumi bisa terkena Covid-19 varian Omicron, menurut proyeksi terbaru dari Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan (IHME) University of Washington. Meskipun IHME dan kelompok pemodelan Covid lainnya memperkirakan bahwa lonjakan Amerika akan surut sekitar bulan depan, jutaan di antaranya mungkin masih tertular virus setiap pekannya. 

Pada saat yang sama, hanya dua pertiga orang Amerika yang menerima dua dosis vaksin virus corona, dan seperempat di antaranya mendapat suntikan penguat (booster). Pertanyaannya, kapan tepatnya harus mendapatkan suntikan booster setelah infeksi?

Baca Juga

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memungkinkan orang untuk mendapatkan suntikan segera setelah gejala sembuh. Tetapi CDC juga menyatakan bahwa bukti saat ini tentang waktu optimal antara infeksi SARS-CoV-2 dan vaksinasi tidak cukup untuk menginformasikan panduan. 

Komisioner kesehatan masyarakat Chicago merekomendasikan menunggu 10 hari setelah tes positif. Inggris merekomendasikan 28 hari dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 90 hari.

 

Peneliti penyakit menular dan vaksin yang berbicara dengan Popular Science juga tidak setuju satu sama lain. Hanya saja, benang merahnya adalah ketika telah menyelesaikan serangkaian suntikan utama, maka kemungkinan tidak akan sakit parah kembali.

Interval dosis hanya akan membuat sedikit perbedaan. Jika tujuannya adalah untuk menghindari penyakit bergejala, mungkin ada baiknya mendapatkan vaksin lebih cepat setelah infeksi. Jika ingin memprioritaskan kekebalan jangka panjang, ada alasan untuk berpikir bahwa harus menunggu lebih lama.

“Saya pikir jawaban yang benar adalah kami tidak tahu,” kata Dorry Segev, ahli bedah transplantasi dan dokter penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas New York, seperti dilansir dari Popsci, Kamis (10/2/2022).

Sebagian besar peneliti yang berbicara dengan Popular Science setuju bahwa jika memenuhi syarat, orang harus mendapatkan dosis ketiga setelah infeksi. Tidak masalah apa pun mereknya, tetapi mengingat kurangnya langkah-langkah pengendalian infeksi di banyak bagian negara, booster akan membuat kemungkinan lebih kecil untuk tertular dan menyebarkan Covid selama gelombang mendatang.

 

Seberapa penting booster?

William Schaffner, seorang profesor penyakit menular dan pencegahan penyakit di Vanderbilt University Medical Center mengatakan infeksi akan memberikan perlindungan terhadap penyakit serius pada kebanyakan orang. Tetapi belum jelas seberapa kuat kekebalan seseorang.

“Kami tidak tahu seberapa kuat (kekebalan Anda) terhadap varian yang berbeda, dan kami tidak tahu berapa (lama) durasinya,” ungkap dia.

Ada kemungkinan bahwa pada titik tertentu, Food and Drug Administration (FDA) dapat mengesahkan booster khusus varian. Namun sejauh ini, penelitian telah menemukan bahwa cara terbaik untuk melatih tubuh merespon strain baru adalah mulai lebih awal.

Sebuah studi dari Oktober 2021 menemukan bahwa enam bulan setelah vaksinasi, sel-sel kekebalan pasien dapat dengan cepat mengubah persneling untuk menghasilkan antibodi terhadap virus. Varian Delta dan varian Beta yang menghindari kekebalan, keduanya sama sekali baru bagi sel.

Begitu mendapatkan booster, kadar antibodi dalam aliran darah jauh lebih tinggi daripada jika melihat orang yang pulih dari Covid. Dengan lebih banyak antibodi, sistem kekebalan menciptakan keragaman antibodi yang lebih besar. 

Satu studi yang diterbitkan oleh CDC pada bulan Januari menunjukkan bahwa orang-orang yang diberi booster sekitar enam persen lebih kecil kemungkinannya meninggal karena varian Delta daripada mereka yang mendapat dua suntikan. Orang yang tidak divaksinasi 53 kali lebih mungkin meninggal. Studi ini tidak membuat perbandingan yang sama untuk Omicron.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement