Kamis 06 Jan 2022 13:54 WIB

WHO Peringatkan Infeksi Omicron Bukan Pilek Biasa

WHO mengingatkan masyarakat dunia untuk tidak menganggap enteng infeksi omicron.

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda
Infeksi SARS-CoV-2 varian omicron tak bisa dianggap enteng sebagai common cold alias pilek biasa, menurut WHO.
Foto: republika.co.id
Infeksi SARS-CoV-2 varian omicron tak bisa dianggap enteng sebagai common cold alias pilek biasa, menurut WHO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar orang-orang berhati-hati dengan penyebaran SARS-CoV-2 varian omicron. Varian dari virus corona jenis baru itu tak bisa dianggap hanya akan menyebabkan penyakit ringan seperti pilek biasa (common cold).

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu (5/1/2022), WHO menegaskan agar masyarakat dunia tidak menganggap enteng omicron. Sebelumnya, sejumlah laporan yang beredar menyebut bahwa varian ini dikaitkan hanya dengan infeksi ringan dan menyebabkan sejumlah gejala yang mirip dengan pilek (selesma).

Baca Juga

Dilansir Times of India, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan, empat gejala umum dari omicron adalah batuk, kelelahan, hidung tersumbat, dan pilek. Sebuah studi baru-baru ini yang dianalisis dari aplikasi Zoe Covid yang berbasis di Inggris juga menyebut bahwa mual dan kehilangan nafsu makan menjadi bagian dari gejala Covid-19 akibat varian ini.

"(Infeksi) omicron bukan common cold. Walaupun beberapa laporan menunjukkan penurunan risiko rawat inap omicron dibandingkan delta, masih terlalu banyak orang yang terinfeksi, dirawat rumah sakit, dan meninggal karena omicron (dan delta)," ujar ahli epidemiologi WHO Dr Maria Van Kerkhove dalam pernyataan melalui jejaring sosial Twitter.

 

Sebelumnya, beberapa penelitian dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan Inggris telah menunjukkan bahwa infeksi yang disebabkan oleh omicron umumnya ringan, dengan rawat inap yang lebih sedikit. Namun, dengan penyebaran yang begitu cepat, potensi jumlah pasien yang pada akhirnya membutuhkan perawatan di rumah sakit bisa meningkat.

"Sistem kesehatan pada akhirnya bisa kewalahan," kata kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement