Selasa 07 Dec 2021 11:29 WIB

Laporan Afrika Selatan, Omicron tidak Timbulkan Sakit Parah

Afrika Selatan meninjau langsung pasien Omicron di RS Distrik Tshwane.

Laporan terbaru dari Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan (SAMRC) mengungkap bahwa varian Omicron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan varian sebelumnya.
Foto: www.wikimedia.org
Laporan terbaru dari Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan (SAMRC) mengungkap bahwa varian Omicron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan varian sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, 

Oleh: Gumanti Awaliyah

Sepekan setelah WHO melabeli varian SARS-CoV-2 yang muncul di Afrika Selatan sebagai Omicron, virus itu telah terdeteksi di hampir 38 negara di seluruh dunia. Kini, laporan terbaru dari Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan (SAMRC) mengungkap bahwa varian Omicron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan varian sebelumnya.

Laporan ini ditulis oleh dokter Fareed Abdullah, dengan meninjau pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Distrik Tshwane. Abdullah menekankan bahwa laporan tersebut hanya didasarkan pada pasien yang dirawat selama dua minggu pertama gelombang omicron, sehingga sangat mungkin profil pasien ini akan berubah selama beberapa minggu mendatang.

Tanda-tanda awal menunjukkan gelombang Omicron ini sangat berbeda dengan gelombang sebelumnya yang terlihat di wilayah Tshwane setempat. Pengamatan utama yang dilaporkan dalam analisis ini adalah mayoritas pasien di bangsal Covid-19 tidak bergantung pada oksigen. Ini bisa diartikan bahwa varian Omicron tidak menimbulkan keparahan penyakit seperti varian sebelumnya.

“Sepanjang gelombang Covid-19 sebelumnya, selalu ada lonjakan pasien di bangsal Covid dan biasanya pasien dirawat sampai fase pemulihan, menunggu resolusi komorbiditas sebelum dipulangkan,” kata Abdullah seperti dilansir dari New Atlas, Selasa (7/12).

Yang memperumit indikasi yang menjanjikan ini adalah kenyataan bahwa sebagian besar rawat inap Covid-19 di Tshwane adalah individu yang lebih muda. Bahkan, menurut laporan SAMRC, 80 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam dua minggu terakhir adalah mereka yang berusia di bawah 50 tahun.

Abdullah berspekulasi tingkat kasus positif yang lebih tinggi pada individu yang lebih muda bisa menjadi pertanda vaksin bekerja melawan Omicron. Dia mencatat 57 persen dari mereka yang berusia di atas 50 tahun di wilayah setempat telah divaksinasi, sementara capaian vaksinasi individu berusia di bawah 50 tahun hanya 34 persen.

Peter Hotez dari Baylor College of Medicine membaca data baru ini sebagai hal yang menjanjikan. Namun, dia menggaris bawahi bahwa masih terlalu dini untuk mengklaim bahwa ini adalah perilaku definitif Omicron.

“Saya pikir kita harus sangat berhati-hati dalam membuat pernyataan definitif. Kita melihat saat Omicron berakselerasi di Amerika Serikat, apakah akan memicu gelombang baru atau tidak,” kata Hotez.

Studi baru lainnya tentang Omicron berasal dari South African Centre of Excellence in Epidemiological Modelling and Analysis. Diterbitkan sebagai pracetak dan belum ditinjau oleh rekan sejawat, penelitian tersebut melaporkan studi pengawasan yang sedang berlangsung yang melacak tingkat infeksi ulang Covid-19 di wilayah setempat.

Studi dimulai pada awal tahun 2021, dan temuan awal yang diterbitkan sebagai pracetak pada awal November melacak tingkat infeksi ulang di seluruh gelombang varian Beta dan Delta. Selama bulan Oktober para peneliti mulai melihat pergeseran data. 

Infeksi ulang meningkat dengan cepat di beberapa wilayah Afrika Selatan. Ketika Omicron baru-baru ini diidentifikasi, para peneliti dengan cepat memperbarui studi mereka untuk memasukkan data hingga akhir November.

 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement