Selasa 28 Sep 2021 15:57 WIB

Studi: Hormon Stres Tingkatkan Risiko Sakit Jantung

Orang yang sensitif dengan hormon stres lebih berisiko terkena penyakit jantung.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah
Orang yang sensitif dengan hormon stres lebih berisiko terkena penyakit jantung.
Foto: Flickr
Orang yang sensitif dengan hormon stres lebih berisiko terkena penyakit jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menurut studi, orang yang sangat sensitif terhadap hormon stres berisiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular. Menurut penelitian yang dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan European Society for Pediatric Endocrinology Meeting, studi  bertujuan untuk membuat tes yang dapat membedakan antara orang yang sensitif dan resisten terhadap hormon stres.

Tes membantu dokter menentukan hasil terapi dengan lebih baik, dan meminimalkan efek samping pada mereka yang membutuhkan pengobatan glukokortikoid. Profil protein yang terkait dengan sensitivitas glukokortikoid, termasuk peningkatan penanda risiko gangguan terkait stres, seperti stroke dan serangan jantung, menunjukkan kemungkinan baru untuk diagnostik atau terapi di area ini.

Baca Juga

Glukokortikoid (GC) adalah sekelompok hormon yang diproduksi secara alami di dalam tubuh, salah satunya adalah hormon stres kortisol, dan sangat penting untuk metabolisme dan fungsi kekebalan tubuh yang sehat. Mereka bertindak sebagai anti-peradangan dan secara rutin digunakan untuk mengobati alergi, asma, dan kondisi lain yang melibatkan sistem kekebalan yang terlalu aktif.

Namun, orang merespons secara berbeda terhadap GC. Tes yang membedakan antara orang yang sensitif dan resisten akan sangat berguna dalam meningkatkan hasil pengobatan. Protein dalam tubuh kita bertanggung jawab untuk mengenali, mengangkut, dan memengaruhi aksi hormon seperti GC seihingga mungkin profil protein orang yang sensitif dan resisten dapat menunjukkan efektivitas GC.

Dalam penelitian ini, Nicolas Nicolaides dan rekan dalam penelitiannya di Athena, Yunani, menyelidiki satu set protein dapat diidentifikasi membedakan antara orang yang sensitif dan resisten terhadap GC? 101 sukarelawan sehat diberi dosis rendah GC, deksametason. Kemudian diberi peringkat dari yang paling sensitif hingga paling resisten, berdasarkan kadar kortisol darah mereka keesokan paginya.

Sampel dari 10 persen atas dan bawah kemudian dianalisis menggunakan spektrometri massa kromatografi cair untuk mengidentifikasi perbedaan profil protein antara kelompok-kelompok ini. Kelompok sensitif memiliki 110 upregulated dan 66 downregulated protein dibandingkan dengan kelompok resisten. Dari protein yang diregulasi dalam kelompok sensitif, beberapa dikaitkan dengan peningkatan pembekuan darah, pembentukan plak amiloid pada penyakit Alzheimer dan fungsi kekebalan.

"Temuan kami menunjukkan, untuk pertama kalinya, bagaimana peningkatan sensitivitas glukokortikoid dapat dikaitkan dengan gangguan terkait stres, termasuk infark miokard dan otak, yang dapat mengarah pada intervensi terapeutik baru,” kata Nicolaides dilansir Eurasia Review, Selasa (29/9).

Nicolaides memperingatkan bahwa penelitiannya adalah studi kecil, karena itu butuh tindak lanjut lebih besar untuk mengkonfirmasi perbedaan yang diamati antara orang yang sensitif dan resisten glukokortikoid. Penelitian ini merupakan bagian dari proyek yang lebih besar, yang melibatkan analisis genetik dan metabolisme pada subyek sehat dengan perbedaan sensitivitas jaringan terhadap glukokortikoid. Tim berencana untuk melakukan penelitian yang lebih besar untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengembangkan profil tanda tangan untuk mengidentifikasi kelompok pasien ini, yang mungkin juga meningkatkan kerentanan terhadap gangguan terkait stres.

Nicolaides mengatakan tim berspekulasi bahwa orang yang paling sensitif terhadap glukokortikoid terkena stres yang berlebihan atau berkepanjangan. Hal ini membuat ada peningkatan aktivasi sel darah yang dihasilkan dapat mempengaruhi mereka untuk membentuk gumpalan di jantung dan otak, yang menyebabkan serangan jantung atau stroke. 

“Kami berpotensi mengidentifikasi mereka yang lebih berisiko dan membutuhkan manajemen stres,” ujar dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement