Sabtu 01 May 2021 16:45 WIB

Studi Ungkap Virus Covid-19 Bersifat Musiman

Studi menemukan suhu dan kelembapan tinggi mengurangi kelangsungan hidup SARS-CoV-2.

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih
Ilustrasi Penyebaran Virus Corona.
Foto: MgIT03
Ilustrasi Penyebaran Virus Corona.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi mengungkapkan suhu hangat dan iklim tropis dapat membantu mengurangi penyebaran virus Covid-19. Peneliti mengungkapkan virus Covid-19 dianggap bersifat musiman. Namun, hal ini belum patut dibenarkan dan masih diteliti lebih lanjut.

"Hasil kami tidak menyiratkan penyakit itu akan hilang selama musim panas atau tidak akan mempengaruhi negara-negara yang dekat dengan khatulistiwa. Sebaliknya, suhu yang lebih tinggi dan radiasi UV (ultraviolet) yang lebih intens di musim panas cenderung mendukung langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk menahan SARS-CoV-2,"  kata salah satu peneliti yang dikutip dari livescience, Sabtu (1/5).

Baca Juga

Berdasarkan data, tempat dengan suhu hangat dengan sinar matahari seperti negara-negara yang dekat dengan khatulistiwa memiliki tingkat kasus Covid-19 yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara yang jauh dari khatulistiwa dan negara-negara yang mengalami cuaca lebih dingin.

Penemuan ini dilakukan bahkan setelah para peneliti memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi penyebaran Covid-19 dan jumlah kasus yang dilaporkan. Faktor yang juga diperhitungkan seperti tingkat urbanisasi suatu negara dan intensitas pengujian Covid-19.

Sementara itu, para ilmuwan lainnya tidak tahu pasti mengapa virus ini mengikuti pola musiman tetapi sejumlah faktor diperkirakan berperan.  Misalnya, penelitian menunjukkan banyak virus pernapasan lebih stabil dan bertahan di udara lebih lama di lingkungan dengan suhu dingin dan kelembapan rendah.

Perilaku manusia, seperti berkumpul di dalam ruangan pada musim dingin, juga dapat meningkatkan penularan. Studi menemukan suhu dan kelembapan tinggi mengurangi kelangsungan hidup SARS-CoV-2 tetapi apakah ini diterjemahkan ke penularan dunia nyata masih belum jelas.

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis informasi dari 117 negara, menggunakan data penyebaran Covid-19 dari awal pandemi hingga 9 Januari 2021. Mereka menggunakan metode statistik untuk memeriksa hubungan antara garis lintang suatu negara yang memengaruhi  jumlah sinar matahari yang diterimanya serta suhu, kelembapan dan tingkat penyebaran Covid-19.

Mereka juga menggunakan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengontrol faktor-faktor yang dapat memengaruhi seberapa keras suatu negara dilanda Covid-19. Faktor yang dimaksud seperti perjalanan udara, pengeluaran perawatan kesehatan, rasio orang dewasa yang lebih tua dengan orang yang lebih muda dan perkembangan ekonomi.

Ditemukan juga setiap kenaikan satu derajat di garis lintang suatu negara dari khatulistiwa dikaitkan dengan peningkatan 4,3 persen dalam jumlah kasus Covid-19 per juta orang. Artinya, jika satu negara berjarak 620 mil (1.000 kilometer) lebih dekat ke khatulistiwa dibandingkan dengan negara lain, negara yang lebih dekat ke khatulistiwa diperkirakan memiliki 33 persen lebih sedikit kasus Covid-19 per juta orang. Semua faktor lain dianggap sama di antara negara-negara tersebut.

"Hasil kami konsisten dengan hipotesis kalau panas dan sinar matahari mengurangi penyebaran SARS-CoV-2 dan prevalensi Covid-19. Namun, ada ancaman kebangkitan epidemiologi yang dapat meningkat selama musim dingin seperti yang terlihat di banyak negara di Belahan Bumi Utara pada Desember 2020 dan Januari 2021," kata peneliti.

Diketahui, para penulis mencatat penelitian mereka hanya mencakup data hingga 9 Januari 2021, sebelum sejumlah varian Covid-19 termasuk varian yang pertama kali muncul di Afrika Selatan dan Inggris, muncul di seluruh dunia. Jadi, belum jelas apakah varian ini akan menunjukkan pola infeksi musiman yang serupa. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Scientifc Report pada 27 April 2021.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement