Ahad 21 Mar 2021 17:11 WIB

Demi Lovato Bersyukur Selamat dari Overdosis

Demi Lovato pernan overdosis pada Julu 2018 lalu.

Rep: Farah Noersativa/ Red: Dwi Murdaningsih
Demi Lovato
Foto: AP
Demi Lovato

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi Demi Lovato merasa bersyukur dia masih bisa lolos dari kematian pada Juli 2018 lalu. Saat itu, dia dilarikan ke rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri di rumahnya di Los Angeles.

Menurut dokter, seperti yang dilansir laman Female First, Sabtu (20/3), Lovato sangat beruntung bisa selamat karena segera dilarikan ke rumah sakit. Sebab, jika terlambat lima menit hingga 10 menit saja, dia bisa meninggal dunia.

Baca Juga

"Para dokter memberi tahu saya bahwa saya memiliki lima hingga 10 menit, jika tidak ada yang menemukan saya maka saya tidak akan berada di sini.  Dan saya bersyukur saya duduk di sini hari ini," ujar Lovato saat berbincang selama penampilan yang akan datang di 'CBS Sunday Morning'.

Ketika pewawancara Tracy Smith mengingatkan Demi bahwa dia pernah melakukan percakapan serupa tentang perjuangan kecanduannya pada 2016, penyanyi berusia 28 tahun itu mengakui bahwa dia membutuhkan kematian baginya untuk benar-benar bangun untuk membuat perubahan dalam dirinya di kehidupan.

 

"Saya mungkin berusia 24 tahun ketika kami melakukan wawancara, jadi kami melakukan wawancara ini, saya dalam pemulihan dari banyak hal dan saya telah sadar selama bertahun-tahun tetapi saya masih sengsara. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, pada dasarnya saya harus mati untuk bangun," kata dia.

Lovato mengungkapkan overdosis dan hidupnya dalam pemulihan dalam serial dokumenter YouTube Originals barunya, Demi Lovato: Dancing with the Devil. Serial itu akan tayang perdana pada 23 Maret.

Episode pertama ditayangkan selama SXSW Film Festival minggu ini, dan di dalamnya. Lovato mengungkapkan dia masih merokok ganja dan minum alkohol secukupnya.

Lovato pun mengakui dia tidak yakin dipublikasikan tentang keputusannya itu. Sebab, dia tidak ingin mendorong orang untuk melakukan hal yang sama.

 "Saya juga tidak ingin orang mendengar itu dan berpikir bahwa mereka bisa keluar dan mencoba minum atau merokok, Anda tahu?," kata dia.

Menurut dia, pemulihan bukanlah solusi satu ukuran untuk semua. Seseorang tidak boleh dipaksa untuk sadar jika belum siap.

 "Kamu seharusnya tidak sadar untuk orang lain. Kamu harus melakukannya untuk dirimu sendiri," jelasnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement