Jumat 04 Dec 2020 03:31 WIB

Daging Ayam Rekayasa Sel Kini Legal di Singapura

Perusahaan Eat Just mengembangkan daging ayam hasil rekayasa di laboratorium.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih
Ayam goreng. ilustrasi
Foto: dok Republika
Ayam goreng. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan rintisan Eat Just berhasil mengembangkan daging ayam hasil rekayasa di laboratorium. Baru-baru ini mereka juga mengantongi izin dari otoritas Singapura untuk menjual temuan mereka di pasaran.

Eat Just mengembangkan daging rekayasa dari sejumlah kecil sel dari hewan hidup. Sel itu kemudian diberikan nutrisi yang sama seperti hewan asli, supaya sel tumbuh dan berkembang biak. Sel-sel itu akan berkembang biak dalam bioreaktor hingga akhirnya menjadi daging yang dapat dimakan.

Baca Juga

Setelah mendapatkan izin, perusahaan rintisan ini akan segera meluncurkan produk komersial daging ayam di Singapura dalam waktu dekat. Di sisi lain, perusahaan ini juga tengah mengembangkan daging sapi rekayasa yang dibudidayakan dari sapi California dan Wagyu Jepang.

“Saya yakin bahwa izin yang kami dapat akan menjadi yang pertama di Singapura bahkan di negara-negara di seluruh dunia,” kata Josh Tetrick, salah satu pendiri dan CEO Eat Just.

Tetrick optimistis, perusahaannya bisa membantu memenuhi permintaan protein hewani yang akan meningkat seiring dengan bertambahnya populasi manusia menjadi 9,7 miliar pada tahun 2050.

Meski saat ini harganya masih mahal, namun daging rekayasa ini bisa menjadi alternatif bagi para pecinta daging yang ingin lebih sehat. Selain faktor kesehatan, pengembangan daging rekayasa ini juga bertujuan untuk menawarkan cara yang lebih berkelanjutan dalam produksi pangan.

Seperti diketahui, produksi daging konvensional membutuhkan lahan dan energi yang besar, serta menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Karenanya para ahli berpacu untuk menemukan cara baru yang lebih raham lingkungan.

"Kami senang atas temuan ini. Izin layak diberikan karena mereka secara konsisten berhasil membudidayakan daging dalam jumlah signifikan tanpa antibiotik,” kata Direktur Eksekutif Organisasi Nirlaba The Good Food Institute Bruce Friedrich.

"Sangat penting bagi perusahaan budidaya daging untuk berhati-hati dan melampaui harapan publik dalam memastikan keamanan dan kenyamanan konsumen dengan produk mereka," tambah Friedrich seperti dikutip dari laman New Atlas pada Kamis (3/12).

Sejumlah perusahaan rintisan lain juga ada yang mengembangkan produk daging rekayasa dari sayuran, seperti daging sapi rekayasa yang ditawarkan oleh Impossible Foods. Perusahaan rintisan lain termasuk KFC dan Aleph Farms, yang sedang mengerjakan daging rekayasa dari sel hewan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement