Sabtu 13 Jun 2020 02:45 WIB

Ibu Penderita Covid-19 tak Disarankan Operasi Caesar?

Studi mengungkap Covid-19 menyebabkan risiko lebih besar bagi bayi yang lahir caesar

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Perawat memakaikan pelindung muka atau face shield untuk bayi.  Ibu hamil penderita Covid-19 yang melahirkan dengan metode operasi caesar memiliki risiko yang lebih besar terhadap komplikasi. Komplikasi ini dapat mempengaruhi sang ibu dan juga bayi mereka.
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Perawat memakaikan pelindung muka atau face shield untuk bayi. Ibu hamil penderita Covid-19 yang melahirkan dengan metode operasi caesar memiliki risiko yang lebih besar terhadap komplikasi. Komplikasi ini dapat mempengaruhi sang ibu dan juga bayi mereka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibu hamil penderita Covid-19 yang melahirkan dengan metode operasi caesar memiliki risiko yang lebih besar terhadap komplikasi. Komplikasi ini dapat mempengaruhi sang ibu dan juga bayi mereka.

Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang dimuat pada Journal of the American Medical Association. Studi tersebut melibatkan 82 ibu hamil penderita Covid-19 di Spanyol. Sebanyak empat di antaranya memiliki gejala Covid-19 berat.

Dari 82 ibu hamil, sebanyak 37 orang melahirkan melalui metode operasi caesar. Delapan orang dari ibu hamil tersebut harus menjalani operasi caesar akibat dampak langsung yang disebabkan oleh Covid-19.

Hampir 30 persen bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar harus dirawat di neonatal intensive care unit (NICU). Sebagai perbandingan, hanya kurang dari 20 persen bayi yang dilahirkan secara normal oleh ibu penderita Covid-19 yang harus mendapatkan perawatan di NICU.

"Operasi caesar harus dilakukan hanya ketika ada indikasi untuk itu di luar Covid-19," ungkap salah satu peneliti dari Center Hospitalier Universitaire Dr David Baud, seperti dilansir WebMD.

Baud mengatakan operasi caesar tidak seharusnya dilakukan hanya karena ibu hamil menderita Covid-19. Operasi caesar juga tidak seharusnya dilakukan hanya untuk mencegah transmisi virus kepada bayi.

Alasannya, lanjut Baud, Covid-19 dapat meningkatkan risiko-risiko yang berkaitan dengan operasi caesar. Salah satunya, tindakan ini dapat membuat ibu hamil lebih berisiko untuk dirawat di Intensive Care Unit (ICU).

Pada ibu hamil penderita Covid-19 yang melahirkan secara normal tidak ditemukan masalah medis berat. Sebaliknya, hampir 14 persen ibu hamil penderita Covid-19 yang menjalani operasi caesar harus dirawat di ICU.

Selain itu, kondisi Covid-19 tampak memburuk pada 5 persen dari ibu yang melahirkan secara normal. Sedangkan ada sekitar 22 persen ibu yang mengalami perburukan gejala Covid-19 setelah menjalani operasi caesar.

Belum diketahui apakah Covid-19 bisa ditularkan dari ibu kepada janin di dalam rahim. Akan tetapi, studi menemukan bahwa 4 persen dari 72 bayi menunjukkan hasil positif Covid-19 dalam waktu enam jam setelah dilahirkan. Akan tetapi tes ulang yang dilakukan setelah 48 jam menunjukkan bahwa semua bayi negatif Covid-19. Tak ada satu pun dari bayi tersebut yang menunjukkan gejala Covid-19 dalam waktu 10 hari setelah dilahirkan.

Akan tetapi, dua bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar mulai menunjukkan gejala Covid-19 setelah 10 hari. Keduanya berkontak langsung dengan ibu mereka sesaat setelah dilahirkan. Akan tetapi, gejala Covid-19 pada kedua bayi teratasi dalam waktu dua hari.

"Bukan hal yang mengejutkan bahwa perempuan yang harus menjalani operasi caesar memiliki outcome lebih buruk," ungkap Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi di Staten island University Hospital Dr Adi Davidov yang mengulas studi tersebut.

Salah satu alasannya, penderita Covid-19 yang harus menjalani operasi caesar biasanya memiliki kondisi yang lebih sakit. Namun terlepas dari beragam variabel yang ada, ibu hamil disarankan untuk melahirkan secara normal bila kondisi memungkinkan.

"Ini berlaku untuk perempuan yang mempunyai Covid-19 atau tidak," jelas Davidov. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement